<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-926888330575414899</id><updated>2011-12-27T07:55:40.603+07:00</updated><category term='psikologi Pendidikan'/><category term='Psikologi Industri dan Organisasi'/><category term='kelirumologi'/><category term='Psikologi Klinis'/><category term='PSIKOLOGI SOSIAL'/><title type='text'>Psikologi Indonesia</title><subtitle type='html'>Ini adalah 100 % pemikiran dan tulisan dari Marbusan sebagai persembahan kepada Yang Paling Layak Disembah .Pemikiran Psikologi baik secara mainstream maupun pemikiran yang menggelitik namun obyektif ,dan 100 % Marbusan.</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://psikologiindonesia.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/926888330575414899/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://psikologiindonesia.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>psikologi-indonesia.blogspot.com</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05745403077313996986</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>17</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-926888330575414899.post-1874899133647517231</id><published>2011-05-02T18:22:00.002+07:00</published><updated>2011-05-09T15:07:14.400+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='PSIKOLOGI SOSIAL'/><title type='text'>MOTIF KEMANUSIAAN MANUSIA</title><content type='html'>&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"&gt;Saudara , sebagaimana didengungkan di sekolah bahwa manusia adalah makhluk social yang saling berinteraksi .Banyak pula teori yang mengatakan bahwa selain pola asuh (&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;nurture),&lt;/i&gt; lingkungan (&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;nature) &lt;/i&gt;&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;sangatlah berperan dalam perkembangan seorang anak manusia termasuk didalamnya segala interaksi dan dinamika social yang seringkali akan memancing tindakan orang lain secara luas atas dasar yang disebut kemanusiaan.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;b style="mso-bidi-font-weight: normal;"&gt;MOTIF &lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;b style="mso-bidi-font-weight: normal;"&gt;I.&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;HUMANITY THEORY &lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"&gt;Bila kita amati, pada kejadian kemanusiaan&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;ada beberapa motif yang melatarbelakangi .Saya sebut saja kasus Tsunami di Aceh 2004 silam .Kegiatan kemanusiaan yang bergerak pada saat itu , sangatlah luar biasa.Saya teringat betapa saya menangis melihat tayangan Televisi yang menyiarkan betapa banyaknya &lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;korban yang jatuh akibat bencana dahsyat tersebut .Saya ingat , betapa banyak orang diwarung kopi yang notabene kaum “&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;proletar”&lt;/i&gt; rela mengurungkan niatnya membeli mi goreng pengganjal perut atau membatalkan pesanan es jeruknya demi niat mulia menyumbang korban di Aceh .Mengapa ?&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"&gt;Banyak ahli mengatakan bahwa hal ini adalah perwujudan teori kemanusiaan berdasar pada teori Abraham Maslow, yaitu hirarki kebutuhan terutama kebutuhan akan rasa cinta &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"&gt;Pertanyaan yang sama akan memperoleh jawaban sederhana dari seorang tukang becak di Wonokromo ketika ia ditanya mengapa menyumbangkan hasil menarik becaknya hari itu “&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;Mesakne “ &lt;/i&gt;(Kasihan )…&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"&gt;Bila kita berbicara mengenai motif , maka mari kita berbicara mengenai &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;goal (&lt;/i&gt;tujuan ) . Jawabannya kembali kepada rasa kemanusiaan .&lt;b style="mso-bidi-font-weight: normal;"&gt;Tidak ada keinginan untuk mendapatkan reward secara normatif &lt;/b&gt;dalam arti penyumbang Tsunami Aceh secara garus besarnya tidak mengharapkan akan menjadi terkenal,misalnya dengan menyumbang korban Tsunami Aceh.&lt;b style="mso-bidi-font-weight: normal;"&gt; &lt;/b&gt;Hal ini sengaja saya tekankan karena memang ada perbedaan dalam setiap motif kemanusiaan yang dilakukan .&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"&gt;Hal lain yang saya ingin tekankan adalah , &lt;b style="mso-bidi-font-weight: normal;"&gt;tidak adanya rasa diuntungkan bagi penerima bantuan .&lt;/b&gt;Contoh konkritnya adalah begini , seorang korban Tsunami Aceh yang kehilangan istri dan tiga orang anaknya tidak serta merta merasa bahagia dengan mendapatkan bantuan makanan , obat-obatan dan lain sebagainya pun demikian juga hampir tidak peluang untuk mengais rejeki dari kemalangan tersebut ,misalnya berusaha menjual bantuan yang diberikan untuk mendapatkan keuntungan .&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;b style="mso-bidi-font-weight: normal;"&gt;II.&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;AROUSAL THEORY&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"&gt;Hampir sama dengan Teori &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;Drive Reduction &lt;/i&gt;dari Clark Hull , teori ini menyatakan bahwa kita cenderung mempertahankan rasa nyaman kita dari gangguan&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;yang ada .Gangguan yang ada bias berupoa gangguan emosional, intelektual atau bahkan tindakan .Hal ini pula lah yang terjadi pada kasus Prita Mulyasari bila anda masih ingat .Rasa terusik akan ketidak adilan pada system yang kuat , rasa sakit yang tak tertahankan akan sesuatu yang menimpa orang lain &lt;b style="mso-bidi-font-weight: normal;"&gt;dimana hal tersebut bisa menimpa kita &lt;/b&gt;, menyebabkan betapa besarnya tindakan kemanusiaan yang muncul dalam kasus Prita .&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"&gt;Dalam kasus Prita, ada semacam gangguan yang mengusik manusia baik secara &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;kognitif. &lt;/i&gt;Maupun &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;konatif &lt;/i&gt;dimana hal tersebut akan memicu terjadinya suatu tindakan kemanusiaan .Berbeda dengan kasus di Aceh , tindakan kemanusiaan yang berlabel “koin cinta” untuk Prita &lt;b style="mso-bidi-font-weight: normal;"&gt;didasari pada suatu &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;goal&lt;/i&gt; tertentu&lt;/b&gt; , tidak murni pada kemanusiaan atau Prita sebagai manusia itu sendiri . Goal tersebut adalah terjadinya perubahan social tertentu , misalnya kebebasan mengemukakan pendapat atau terjadinya perubahan dari pelaku hokum untuk bisa bertindak lebih bijaksana.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"&gt;Bila kita bertanya , apakah keuntungan yang didapat dari penyumbang tipe ini ? Secara social memang reward yang ada dapat berefek langsung yaitu secara social akan dianggap mempunyai kepekaan ,melek teknologi (ingat kasus Prita adalah kasus elektronik , dimana sebagian orang akan bangga bercerita mengenai aktifitasnya didunia elektronik ) atau yang lain . Reward lain yang didapatkan adalah kepuasan melampiaskan inferioritas yang terpendam , menunggu momen seperti saat ini untuk lepas dan melawan kekuatan yang lebih absolute .&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"&gt;Disisi lain, korban seperti Prita pun juga memiliki beberapa&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;(kesempatan ) keuntungan&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;seperti misalnya dianggap sebagai pelopor atau peletak tonggak perlawanan bisu rakyat .Di sisi yang lain, ada pula kesempatan untuk menggunakan keuntungan financial yang didapat dari sumbangan masyarakat ,namun syukurlah hal tersebut tidak dilakukannya.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"&gt;Secara singkat dapat disimpulkan bahwa &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;Arousal Theory&lt;/i&gt; bukanlah suatu gerakan kemanusiaan yang murni , namun lebih berdasar pada suatu misi /goal yang ingin dicapai &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;b style="mso-bidi-font-weight: normal;"&gt;III.&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;EROS &amp;amp; THANATOS THEORY&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;Saudara , Freud pernah mengemukakan teori psikoanalisa dimana seringkali tindakan manusia didasari oleh apa yang disebutnya &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;eros &lt;/i&gt;dan &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;Thanatos&lt;/i&gt;, atau dorongan hidup dan dorongan kematian . Saudara , apa yang dialami oleh Bilqis adalah salah satu contohnya .Pasien dengan kerusakan pada hati , yang memerlukan biaya besar dalam kasus transplanstasinya yang konon mencapai 1 milyar lebih . Sebuah stasiun TV swastapun ikut membantu menyiarkan dan mempromosikan kegiatan kemanusiaan untuk Bilqis&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;sehingga kabarnya uang 1 Milyar itupun terlampaui untuk biaya Operasinya . &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"&gt;Kaum Psikoanalis berpendapat bahwa tindakan kita sehari-hari adalah upaya untuk melestarikan kehidupan dan mencegah kerusakan pada kehidupan kita .Maka masuk akal-lah pada kasus Bilqis banyak sekali yang berniat membantu . &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"&gt;Tak kurang ,pendidikan dasar Jawa pun mengajarkan bahwa hendaklah kita membantu orang lain bila ingin dibantu orang lain . Prinsip saling menjaga , dan imbal balik dalam melestarikan kehidupan .&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/926888330575414899-1874899133647517231?l=psikologiindonesia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='related' href='http://www.psikologiindonesia.blogspot.com' title='MOTIF KEMANUSIAAN MANUSIA'/><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://psikologiindonesia.blogspot.com/feeds/1874899133647517231/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=926888330575414899&amp;postID=1874899133647517231&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/926888330575414899/posts/default/1874899133647517231'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/926888330575414899/posts/default/1874899133647517231'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://psikologiindonesia.blogspot.com/2011/05/motif-kemanusiaan-manusia.html' title='MOTIF KEMANUSIAAN MANUSIA'/><author><name>psikologi-indonesia.blogspot.com</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05745403077313996986</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-926888330575414899.post-2515841703432546966</id><published>2011-05-02T18:03:00.002+07:00</published><updated>2011-05-09T15:07:55.649+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='psikologi Pendidikan'/><title type='text'>KELIRUMOLOGI  PENDIDIKAN</title><content type='html'>&lt;b style="mso-bidi-font-weight: normal;"&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"&gt;Salam kelirumologi dari Marbusan . Setelah sangat lama Marbusan bertapa, kali ini sebuah tulisan akan coba Marbusan persembahkan kepada Marmotji (sungguh , Marbusan sampai saat ini sangat benci kepada orang yang menyematkan kalimat almarhum kepada beliau). Sungguh , artikel ini adalah yang terberat bagi Marbusan ,karena semenjak kepergian Marmotji entah kenapa jemari Marbusan begitu berat untuk mengetik kata demi kata karena biasanya kami selalu “berargumen” sebelum sebuah naskah diupload ke berbagi.net .Namun,Marbusan tahu hanya dengan terus menulislah Marbusan akan terus memberikan penghormatan kepada beliau .&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0in 0in 0pt 0.75in; mso-list: l0 level1 lfo1; tab-stops: list .75in; text-align: justify; text-indent: -0.5in;"&gt;&lt;b style="mso-bidi-font-weight: normal;"&gt;&lt;span style="mso-list: Ignore;"&gt;I.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;PENDIDIKAN KITA , HUKUMAN ATAU SEMANGAT?&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"&gt;Saudara , kali ini Marbusan akan membahas mengenai dunia pendidikan di Indonesia , dimana masih banyak pro dan kontra mengenai pelaksanaannya . Sungguh, Marbusan bukanlah orang yang suka merendahkan diri sendiri apalagi bangsanya dengan mengumbar kejelekan sehingga seolah-olah tiada hal yang positif , namun tulisan demi tulisan merupakan sumbangsih bagi kemajuan &lt;place w:st="on"&gt;&lt;country-region w:st="on"&gt;Indonesia&lt;/country-region&gt;&lt;/place&gt;. Semoga bermanfaat .&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"&gt;Saudara , suatu hari Marbusan mendapatkan cerita dari seorang ayah yang baru saja pindah dari &lt;place w:st="on"&gt;&lt;country-region w:st="on"&gt;Indonesia&lt;/country-region&gt;&lt;/place&gt; ke Amerika justru mengeluh kepada guru putrinya. Beliau mengeluh dan mempertanyakan nilai sempurna atas sebuah karangan karya sang putri yang diberikan sang guru ,dimana menurut sang ayah yang kebetulan berpendidikan S3 luar negeri , karangan itu bahkan tak layak untuk mendapatkan nilai C sekalipun .Sekali lagi, beliau berpendapat bahwa terlalu banyak ketidaksempurnaan &lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;dalam karangan tersebut, entah tata bahasa, kata waktu ,tanda baca , atau kesalahan – kesalahan lainnya . &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"&gt;Selanjutnya beliau bercerita kembali bahwa justru sang guru yang menjawab dengan jawaban yang takkan pernah ia lupakan .Sang Guru menjawab “ Untuk putri bapak yang baru saja pindah dari negara yang tidak berbahasa ibu Bahasa Inggris, percayalah, ini adalah karangan yang tidak sempurna namun sangat membanggakan.” &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"&gt;Sejurus kemudian sang ayah terdiam dan tersadar , bahwa makna pendidikan bukan mengajarkan untuk mencari menang atau kelah, bukan mengajar kesempurnaan , namun justru mengajarkan semangat untuk mencari ilmu dimana fungsi orang tua atau guru bukanlah sebagai “algojo” yang akan “menerkam “ si peserta didik bila ia melakukan ketidaksempurnaan namun justru memberikan stimulus penguat sehingga nilai yang tertanam bukanlah “takut salah”, tapi berani mencoba . &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"&gt;Ingatkah anda betapa “galak dan siap menerkamnya” dosen penguji laporan akhir anda? Marbusan berani berkata , bahwa &lt;place w:st="on"&gt;&lt;country-region w:st="on"&gt;Indonesia&lt;/country-region&gt;&lt;/place&gt; tidak banyak memiliki penulis buku , karena pola pikir terlanjur dibelenggu tata cara penulisan penelitian semasa sekolah atau kuliah , disamping bayang-bayang akan&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;“dipermalukan , diterkam, digojlok” bila karyanya tidak sempurna .Alasan inilah yang membuat mereka tidak menulis buku, atau memilih tidak mempublikasikan karya mereka .&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"&gt;Saudara , apakah definisi pendidikan bagi anda ? Apa pula patokan keberhasilan dan prestasi dalam pendidikan? Apakah embel-embel rangking 1, atau rangking 40 merupakan cerminan keberhasilan seseorang? Apakah seorang lulusan &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;summa magna cumlaude with honor &lt;/i&gt;adalah jaminan kesuksesan hidup dibanding dengan “KOMPAS” alias &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;Kaoem&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;IPK Sangat Ngepas&lt;/i&gt; ? &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"&gt;II . TEORI BELAJAR&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"&gt;Setidaknya seorang Jean Piaget ,seorang tokoh pendidikan pernah mengadakan sebuah penelitian yang berasal dari observasinya secara langsung dengan bertanya langsung kepada anak-anak mengenai pikiran mereka . Suatu hal menarik ,dimana ia tidak tertarik apakah seorang anak menjawab tepat sebuah pertanyaan , namun lebih kepada bagaimana ia mendapatkan jawaban tersebut . &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"&gt;Piaget memandang kecerdasan (intelegensia )sebagai suatu perluasan dari adaptasi biologis dan memiliki struktur logika .Pusat dari teori Piaget adalah &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;epigenesis &lt;/i&gt;yang menyatakan pertumbuhan dan perkembangan terjadi dalam urutan serial ,dimana masing-masing dibangun pada penguasaan yang berhasil terhadap stadium selanjutnya .Secara singkat, ia berpendapat bahwa proses belajar adalah sebuah proses yang diwakili stadium-stadium tertentu sesuai usia dan tahapan-tahapan pertumbuhan dan perkembangan manusia.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"&gt;Dalam teori belajar lainnya , Marbusan menemukan definisi belajar sebagai:&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;“ perubahan perilaku seseorang dalam situasi tertentu yang disebabkan oleh pengalaman berulang terhadap situasi tersebut ,asalkan perilaku tersebut tidak dapat dijelaskan atas dasar kecenderungan respon alami seseorang, kematangan, atau keadaan yang sementara “&lt;/i&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"&gt;Jadi jelaslah bahwa dalam proses belajar yang ditekankan adalah perubahan perilaku ,yang mencerminkan perkembangan , atas dasar situasi yang dialami . Perlu saya tegaskan bahwa pendidikan bukanlah suatu kompetisi , tapi lebih kearah &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;implementation toward better personality &lt;/i&gt;,setidaknya itulah impian pendidikan , yaitu tercapainya pribadi dan kepribadian yang lebih mengingat masyarakat yang demikian majemukpun seringkali (dan memang bisa! ) dirubah oleh seorang pribadi yang luar biasa . Kita masih ingat (dalam tataran pengaruh ,terlepas pengaruh itu baik atau tidak ) ,Hitler yang pendek , berwal dari seorang prajurit rendah dapat kemudian menggenggam dunia .&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"&gt;III . HUBUNGAN MENDONGENG dan BELAJAR&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"&gt;Saudara , beberapa waktu lalu Marbusan bersama Marmujen pergi bersama ke sebuah forum temu wicara bersama komunitas pencinta dan juga penulis buku . Pernahkah anda mengamati bahwa pencinta buku atau kutu buku sebetulnya memiliki stereotype kepribadian yang sama?&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"&gt;Pernahkan anda mengamati bahwa penikmat buku adalah orang yang suka “menikmati dunia sepi tak terganggu yang bersifat pribadi” ? lebih jelasnya , bahwa pecinta buku/kutu buku seringkali akrab dengan stereotype psikologi orang introvert , suka menyendiri , seringkali bukanlah orang yang asertif ,suka menyendiri , pendiam ,atau bila bergaul dengan manusia lain cenderung bersikap eksklusif? (kira-kira ada yang marah nggak ya? ….)&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"&gt;Secara logika, saya mengatakan demikian selain dari pengamatan namun juga karena alasan ilmiah ,yaitu membaca tulisan membutuhkan ketelitian dan ketelatenan ,keteraturan , yang seringkali didapatkan pada orang berdominan “pemikiran otak kiri “, dan tipe orang seperti itu dapat ditebak dengan mudah bukanlah orang yang “rame” , spontan , dan (maaf) bukan pula orang yang energik .&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"&gt;Lalu apa kaitannya dengan pendidikan ? Saudara, saya dan (almarhum) Marmotji dulu pernah membuat suatu “definisi “ buta huruf dimana bukanlah orang yang tidak bisa membaca atau menulis , namun “orang yang membaca kurang dari dua buku dalam sebulan “ .Namun seiring dengan pengamatan kami , maka ternyata Buta Huruf adalah orang yang kurang membaca kurang dari dua buku sebulan atau orang yang “Bisu Huruf” (orang yang tidak menyebarkan sedikitpun kepada orang lain apa yang telah dibacanya ) .Bila hal ini terjadi,maka tentunya penyeberan informasi hanya akan mengelompok pada sekelompok orang yang bisa mengakses informasi tersebut . &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"&gt;Pada saat saya masih anak-anak , jauh sebelum bisa membaca ,saya dapat dengan mudah menceritakan kepada orang lain mengenai legenda kancil melalui dongeng ibu (semoga Allah SWT selalu mengasihi beliau ,amin) .Sayapun dapat bergaya seperti guru dengan mengatakan pesan moral cerita tersebut kepada anak-anak yang lain .Anak sayapun dapat bercerita tentang cara memasak sop yang enak , bagaimana mengupas wortel semenjak usia 3 tahun sebagai akibat mendengar cerita ibunya yang hobi membaca majalah resep masakan . Hal ini sangat berpengaruh pada daya berpikir abstrak, kemampuan mencerna komunikasi verbal dan juga ingatan pada saat sang anak masuk kedalam dunia sekolah .Sayang ,sekali lagi sayang hal ini jarang dilakukan lagi ,dimana posisi pendongeng digantikan oleh Sinetron tak bermutu .&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"&gt;Saudara , saya mengingatkan kembali bahwa sudah ada yang salah dengan system pendidikan kita , dimana semuanya dianggap sebagai beban dan diperparah dengan cara pengajaran yang tidak menarik . Negara kita butuh orang pintar , namun buat apa satu orang pintar yang tidak bisa menjadikan orang lain pintar dengan ilmunya ?&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"&gt;Mungkin banyak orang yang lupa bahwa membaca komik lebih menyenangkan daripada membaca biografi seoranng pemimpin Negara,misalnya . Seringkali orang lupa bahwa belajar secara visual , melalui warna akan jauh menyenangkan dan efektif dibandingkan tulisan yang menjemukan .&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;Jangan Lupa pula bahwa proses mendengar yang menyenangkan dapat menjadi metode belajar yang bisa membuat seorang anak menjadi anak berbibit unggul . Contoh terapi musik klasik semenjak janin masih dalam kendungan adalah bukti yang nyata .&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"&gt;IV .KESIMPULAN&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"&gt;Saudara , seringkali orang mengatakan bahwa salah satu ciri bangsa yang besar adalah kegemaran rakyatnya membaca .Namun kembali lagi saya katakan bahwa membaca perlulah untuk dirangsang sedini mungkin .Caranya adalah dengan memperkenalkan dunia membaca sebagai dunia penuh keindahan,keajaiban ,dan sumber imajinasi bagi anak .Adalah tugas orang tua untuk menumbuhkan minat baca anak tanpa membebaninya dengan tugas yang tidak perlu hanya untuk memuaskan ambisi konyol orang tua .Sedangkan bagi kita yang sudah beranjak dewasa, adalah tugas kita untuk tidak Buta Huruf dengan cara membaca minimal dua buku dalam sebulan , serta tidak Bisu Huruf &lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;atau tidak menceritakan sedikitpun tentang apa yang anda baca .Bukankah kitab suci menyuruh kita menyampaikan kepada orang lain meskipun hanya satu ayat?&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"&gt;Kepada para pencinta buku, penulis , pengajar sebaiknya melupakan “sedikit ego”kepenulisan dengan menyajikan kajian Full Ilmiah nan membingungkan demi gelar “manusia ilmiah “ .Hendaknya mari kita mencari cara untuk menyajikan kajian ilmiah secair mungkin dengan bahasa sepopuler mungkin agar anak didik kita memahami betapa indah warna-warni ilmu didunia&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;dan bukannya menganggap sebagai monster nan menakutkan . Terus terang , bila saya seorang dosen , saya akan berdoa semoga saya tidak akan dikenang sebagai orang yang menakutkan bagi anak didik saya ,karena hal itu hanya akan membuktikan bahwa marbusan adalah orang yang mendorong generasi penerus untuk menjadi musuh buku dan musuh pendidikan dengan cara menyajikan ilmu dengan cara yang menakutkan .Bagaimana dengan anda? Selamat hari Pendidikan . Untuk Om Marmotji , tulisan ini dipersembahkan kepada seorang pecinta ilmu sperti sampeyan…..&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0in 0in 0pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0in 0in 0pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0in 0in 0pt;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/926888330575414899-2515841703432546966?l=psikologiindonesia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='related' href='http://www.psikologiindonesia.blogspot.com' title='KELIRUMOLOGI  PENDIDIKAN'/><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://psikologiindonesia.blogspot.com/feeds/2515841703432546966/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=926888330575414899&amp;postID=2515841703432546966&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/926888330575414899/posts/default/2515841703432546966'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/926888330575414899/posts/default/2515841703432546966'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://psikologiindonesia.blogspot.com/2011/05/kelirumologi-pendidikan.html' title='KELIRUMOLOGI  PENDIDIKAN'/><author><name>psikologi-indonesia.blogspot.com</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05745403077313996986</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-926888330575414899.post-8886981603722178949</id><published>2011-05-02T17:06:00.001+07:00</published><updated>2011-05-02T18:01:36.428+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Psikologi Klinis'/><title type='text'>Psikolog dan Diagnosa Psikiatri</title><content type='html'>&lt;div class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="mso-bidi-font-weight: bold;"&gt;Guna Penentuan Diagnosa Psikiatri bagi Psikolog.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="mso-bidi-font-weight: bold;"&gt;Psikiatri dan Psikologi, dua ilmu yang tidak dapat dipisahkan dalam aplikasinya dalam bidang kesehatan jiwa.Sebagai dua disiplin ilmu yang memang berasal dari satu akar, kedua ilmu tersebut memang akan dan selalu akan tidak akan terpisahkan.Perbedaan yang ada, hanyalah merupakan khasanah yang justru akan memperkaya&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;masing-masing ilmu.Jadi,KooperasiantaraPsikologi dengan Dinamikanya maupun Psikiatri dengan pendekatannya, akan membawa suatu pencerahan dalam bidang Ilmu Kesehatan Jiwa&lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; line-height: 150%; mso-bidi-font-size: 12.0pt;"&gt;.&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0in 0in 0pt;"&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0in 0in 0pt;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0in 0in 0pt;"&gt;&lt;b&gt;1. Psikologi sebagai Dinamika, Psikiatri sebagai Metrik&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0in 0in 0pt; mso-list: l0 level1 lfo2; text-indent: 0in;"&gt;&lt;span style="font-family: Wingdings; font-size: 14pt; line-height: 150%; mso-bidi-font-family: Wingdings; mso-bidi-font-size: 12.0pt; mso-bidi-font-weight: bold; mso-fareast-font-family: Wingdings;"&gt;&lt;span style="mso-list: Ignore;"&gt;w&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="mso-bidi-font-weight: bold;"&gt;Dinamika:apa yang menyebabkan terjadinya perilaku manusia (dari energi psikologis ke tindakan nyata)&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0in 0in 0pt; mso-list: l0 level1 lfo2; text-indent: 0in;"&gt;&lt;span style="font-family: Wingdings; font-size: 14pt; line-height: 150%; mso-bidi-font-family: Wingdings; mso-bidi-font-size: 12.0pt; mso-bidi-font-weight: bold; mso-fareast-font-family: Wingdings;"&gt;&lt;span style="mso-list: Ignore;"&gt;w&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="mso-bidi-font-weight: bold;"&gt;Terdiri dari : Struktur kepribadian,mekanisme pertahanan, dan manifestasi perilaku.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0in 0in 0pt; mso-list: l0 level1 lfo2; text-indent: 0in;"&gt;&lt;span style="font-family: Wingdings; font-size: 14pt; line-height: 150%; mso-bidi-font-family: Wingdings; mso-bidi-font-size: 12.0pt; mso-bidi-font-weight: bold; mso-fareast-font-family: Wingdings;"&gt;&lt;span style="mso-list: Ignore;"&gt;w&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="mso-bidi-font-weight: bold;"&gt;Mencoba memandang manusia secara utuh (Holistik), baik sebagai diri individu maupun sosial yang berintegrasi menjadi satu kepribadian yang utuh.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0in 0in 0pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0in 0in 0pt;"&gt;&lt;b&gt;Psikiatri sebagai Metrik&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0in 0in 0pt; mso-list: l0 level1 lfo2; text-indent: 0in;"&gt;&lt;span style="font-family: Wingdings; font-size: 14pt; line-height: 150%; mso-bidi-font-family: Wingdings; mso-bidi-font-size: 12.0pt; mso-bidi-font-weight: bold; mso-fareast-font-family: Wingdings;"&gt;&lt;span style="mso-list: Ignore;"&gt;w&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="mso-bidi-font-weight: bold;"&gt;Locus Kepribadian terletak di Otak, tanpa Otak, tiada Kepribadian ( Gordon Allport)&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0in 0in 0pt; mso-list: l0 level1 lfo2; text-indent: 0in;"&gt;&lt;span style="font-family: Wingdings; font-size: 14pt; line-height: 150%; mso-bidi-font-family: Wingdings; mso-bidi-font-size: 12.0pt; mso-bidi-font-weight: bold; mso-fareast-font-family: Wingdings;"&gt;&lt;span style="mso-list: Ignore;"&gt;w&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="mso-bidi-font-weight: bold;"&gt;Pengenalan : Biological &amp;amp;Neuro Psychiatry&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0in 0in 0pt; mso-list: l0 level1 lfo2; text-indent: 0in;"&gt;&lt;span style="font-family: Wingdings; font-size: 14pt; line-height: 150%; mso-bidi-font-family: Wingdings; mso-bidi-font-size: 12.0pt; mso-bidi-font-weight: bold; mso-fareast-font-family: Wingdings;"&gt;&lt;span style="mso-list: Ignore;"&gt;w&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="mso-bidi-font-weight: bold;"&gt;Biological Psychiatry: Pendekatan neurokimiawi &amp;amp; neurofarmakologis pada gangguan psikiatri.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0in 0in 0pt; mso-list: l0 level1 lfo2; text-indent: 0in;"&gt;&lt;span style="font-family: Wingdings; font-size: 14pt; line-height: 150%; mso-bidi-font-family: Wingdings; mso-bidi-font-size: 12.0pt; mso-bidi-font-weight: bold; mso-fareast-font-family: Wingdings;"&gt;&lt;span style="mso-list: Ignore;"&gt;w&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="mso-bidi-font-weight: bold;"&gt;Neuropsychiatry:Hubungan antara neurologi dan psikiatri&lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; line-height: 150%; mso-bidi-font-size: 12.0pt;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0in 0in 0pt; mso-list: l0 level1 lfo2; text-indent: 0in;"&gt;&lt;span style="font-family: Wingdings; font-size: 14pt; line-height: 150%; mso-bidi-font-family: Wingdings; mso-bidi-font-size: 12.0pt; mso-bidi-font-weight: bold; mso-fareast-font-family: Wingdings;"&gt;&lt;span style="mso-list: Ignore;"&gt;w&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="mso-bidi-font-weight: bold;"&gt;Pemetaan Area Otak untuk pendekatan penjelasan gangguan kejiwaan.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0in 0in 0pt; mso-list: l0 level1 lfo2; text-indent: 0in;"&gt;&lt;span style="font-family: Wingdings; font-size: 14pt; line-height: 150%; mso-bidi-font-family: Wingdings; mso-bidi-font-size: 12.0pt; mso-bidi-font-weight: bold; mso-fareast-font-family: Wingdings;"&gt;&lt;span style="mso-list: Ignore;"&gt;w&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="mso-bidi-font-weight: bold;"&gt;Menggunakan 3 metode : medikasi ,manipulasi lingkungan, atau psikoterapi psikodinamika.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0in 0in 0pt; mso-list: l0 level1 lfo2; text-indent: 0in;"&gt;&lt;span style="font-family: Wingdings; font-size: 14pt; line-height: 150%; mso-bidi-font-family: Wingdings; mso-bidi-font-size: 12.0pt; mso-bidi-font-weight: bold; mso-fareast-font-family: Wingdings;"&gt;&lt;span style="mso-list: Ignore;"&gt;w&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="mso-bidi-font-weight: bold;"&gt;Manusia tersusun dalam “Area”yang terukur dan dapat diperkirakan keadaan yang dialaminya dengan melihat pada status Psikiatrinya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0in 0in 0pt; tab-stops: .25in;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0in 0in 0pt; tab-stops: .25in;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0in 0in 0pt; tab-stops: .25in;"&gt;&lt;b&gt;2. Psikologi sebagai Struktur, Psikiatri sebagai Proses&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0in 0in 0pt; mso-list: l0 level1 lfo2; tab-stops: .25in; text-indent: 0in;"&gt;&lt;span style="font-family: Wingdings; font-size: 14pt; line-height: 150%; mso-bidi-font-family: Wingdings; mso-bidi-font-size: 12.0pt; mso-bidi-font-weight: bold; mso-fareast-font-family: Wingdings;"&gt;&lt;span style="mso-list: Ignore;"&gt;w&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="mso-bidi-font-weight: bold;"&gt;Psikologi mengukur manusia sebagai persona (kepribadian ) yang utuh /holistik.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0in 0in 0pt; mso-list: l0 level1 lfo2; tab-stops: .25in; text-indent: 0in;"&gt;&lt;span style="font-family: Wingdings; font-size: 14pt; line-height: 150%; mso-bidi-font-family: Wingdings; mso-bidi-font-size: 12.0pt; mso-bidi-font-weight: bold; mso-fareast-font-family: Wingdings;"&gt;&lt;span style="mso-list: Ignore;"&gt;w&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="mso-bidi-font-weight: bold;"&gt;Persona terdiri dari struktur kepribadian (mis:tahap perkembangan,mekanisme pertahanan, atau manifestasi perilaku) yang menjadi satu sebagai kesatuan yang utuh.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0in 0in 0pt; mso-list: l0 level1 lfo2; tab-stops: .25in; text-indent: 0in;"&gt;&lt;span style="font-family: Wingdings; font-size: 14pt; line-height: 150%; mso-bidi-font-family: Wingdings; mso-bidi-font-size: 12.0pt; mso-bidi-font-weight: bold; mso-fareast-font-family: Wingdings;"&gt;&lt;span style="mso-list: Ignore;"&gt;w&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="mso-bidi-font-weight: bold;"&gt;Secara struktural holistik, manusia selalu punya potensi untuk menolong dirinya sendiri(Self Conscious.)&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0in 0in 0pt; tab-stops: .25in;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0in 0in 0pt; tab-stops: .25in;"&gt;&lt;b&gt;3. Psikiatri Sebagai Proses&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0in 0in 0pt; mso-list: l0 level1 lfo2; tab-stops: .25in; text-indent: 0in;"&gt;&lt;span style="font-family: Wingdings; font-size: 14pt; line-height: 150%; mso-bidi-font-family: Wingdings; mso-bidi-font-size: 12.0pt; mso-bidi-font-weight: bold; mso-fareast-font-family: Wingdings;"&gt;&lt;span style="mso-list: Ignore;"&gt;w&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="mso-bidi-font-weight: bold;"&gt;Pemeriksaan Diagnostik Psikiatrik Lanjutan :&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0in 0in 0pt; mso-list: l0 level1 lfo3; tab-stops: .25in; text-indent: 0in;"&gt;&lt;span style="font-size: 11.5pt; line-height: 150%; mso-bidi-font-size: 12.0pt; mso-bidi-font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="mso-list: Ignore;"&gt;–&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="mso-bidi-font-weight: bold;"&gt;Pemeriksaan fisik umum&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0in 0in 0pt; mso-list: l0 level1 lfo3; tab-stops: .25in; text-indent: 0in;"&gt;&lt;span style="font-size: 11.5pt; line-height: 150%; mso-bidi-font-size: 12.0pt; mso-bidi-font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="mso-list: Ignore;"&gt;–&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="mso-bidi-font-weight: bold;"&gt;Pemeriksaan neurologis&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0in 0in 0pt; mso-list: l0 level1 lfo3; tab-stops: .25in; text-indent: 0in;"&gt;&lt;span style="font-size: 11.5pt; line-height: 150%; mso-bidi-font-size: 12.0pt; mso-bidi-font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="mso-list: Ignore;"&gt;–&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="mso-bidi-font-weight: bold;"&gt;Wawancara psikiatrik lanjutan&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0in 0in 0pt; mso-list: l0 level1 lfo3; tab-stops: .25in; text-indent: 0in;"&gt;&lt;span style="font-size: 11.5pt; line-height: 150%; mso-bidi-font-size: 12.0pt; mso-bidi-font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="mso-list: Ignore;"&gt;–&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="mso-bidi-font-weight: bold;"&gt;Tes psikologis, neurologis atau yang diperlukan&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0in 0in 0pt; mso-list: l0 level1 lfo2; tab-stops: .25in; text-indent: 0in;"&gt;&lt;span style="font-family: Wingdings; font-size: 14pt; line-height: 150%; mso-bidi-font-family: Wingdings; mso-bidi-font-size: 12.0pt; mso-bidi-font-weight: bold; mso-fareast-font-family: Wingdings;"&gt;&lt;span style="mso-list: Ignore;"&gt;w&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="mso-bidi-font-weight: bold;"&gt;Menegakkan Diagnosa Psikiatri sesuai dengan Proses yang terukur.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0in 0in 0pt; mso-list: l0 level1 lfo2; tab-stops: .25in; text-indent: 0in;"&gt;&lt;span style="font-family: Wingdings; font-size: 14pt; line-height: 150%; mso-bidi-font-family: Wingdings; mso-bidi-font-size: 12.0pt; mso-bidi-font-weight: bold; mso-fareast-font-family: Wingdings;"&gt;&lt;span style="mso-list: Ignore;"&gt;w&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="mso-bidi-font-weight: bold;"&gt;Dalam Proses, Klien sering bertindak&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;bukan sebagai individu yang mandiri , namun sebagi individu yang memerlukan perawatan ( terutama medikamentosa )&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0in 0in 0pt; tab-stops: .25in;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0in 0in 0pt; tab-stops: .25in;"&gt;&lt;b&gt;Psikologi &amp;amp; Psikiatri :Sudut Pandang Kejiwaan.&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0in 0in 0pt; mso-list: l0 level1 lfo4; tab-stops: .25in; text-indent: 0in;"&gt;&lt;span style="font-family: Wingdings; font-size: 16pt; line-height: 150%; mso-bidi-font-family: Wingdings; mso-bidi-font-size: 12.0pt; mso-bidi-font-weight: bold; mso-fareast-font-family: Wingdings;"&gt;&lt;span style="mso-list: Ignore;"&gt;w&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="mso-bidi-font-weight: bold;"&gt;Memperhatikan &lt;b&gt;Model Biopsikososial&lt;/b&gt; dalam terjadinya gangguan kejiwaan.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0in 0in 0pt; mso-list: l0 level1 lfo4; tab-stops: .25in; text-indent: 0in;"&gt;&lt;span style="font-family: Wingdings; font-size: 16pt; line-height: 150%; mso-bidi-font-family: Wingdings; mso-bidi-font-size: 12.0pt; mso-bidi-font-weight: bold; mso-fareast-font-family: Wingdings;"&gt;&lt;span style="mso-list: Ignore;"&gt;w&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="mso-bidi-font-weight: bold;"&gt;Menggunakan tekhnik pendekatan Spesifik terhadap Klien&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0in 0in 0pt; mso-list: l0 level1 lfo4; tab-stops: .25in; text-indent: 0in;"&gt;&lt;span style="font-family: Wingdings; font-size: 16pt; line-height: 150%; mso-bidi-font-family: Wingdings; mso-bidi-font-size: 12.0pt; mso-bidi-font-weight: bold; mso-fareast-font-family: Wingdings;"&gt;&lt;span style="mso-list: Ignore;"&gt;w&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="mso-bidi-font-weight: bold;"&gt;Bahwa Klien meskipun mengalami gangguan kejiwaan, namun ia adalah manusia dengan pendekatan terapi yang manusiawi.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0in 0in 0pt; tab-stops: .25in;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0in 0in 0pt; tab-stops: .25in;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0in 0in 0pt; tab-stops: .25in;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0in 0in 0pt; tab-stops: .25in;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0in 0in 0pt; tab-stops: .25in;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0in 0in 0pt; tab-stops: .25in;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0in 0in 0pt; tab-stops: .25in;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0in 0in 0pt; tab-stops: .25in;"&gt;&lt;b&gt;Psikologi &amp;amp; Psikiatri: &lt;br /&gt;&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;Persamaan Teknik Terapi.&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0in 0in 0pt; mso-list: l0 level1 lfo2; tab-stops: .25in; text-indent: 0in;"&gt;&lt;span style="font-family: Wingdings; font-size: 14pt; line-height: 150%; mso-bidi-font-family: Wingdings; mso-bidi-font-size: 12.0pt; mso-bidi-font-weight: bold; mso-fareast-font-family: Wingdings;"&gt;&lt;span style="mso-list: Ignore;"&gt;w&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="mso-bidi-font-weight: bold;"&gt;Selalu berikan tugas kepada pasien yang berhubungan dengan proses terapi ( mis: tugas untuk merencanakan tujuan hidupnya yang lebih baik-Konseling Psikologi)&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0in 0in 0pt; mso-list: l0 level1 lfo2; tab-stops: .25in; text-indent: 0in;"&gt;&lt;span style="font-family: Wingdings; font-size: 14pt; line-height: 150%; mso-bidi-font-family: Wingdings; mso-bidi-font-size: 12.0pt; mso-bidi-font-weight: bold; mso-fareast-font-family: Wingdings;"&gt;&lt;span style="mso-list: Ignore;"&gt;w&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="mso-bidi-font-weight: bold;"&gt;Memberikan dukungan yang komprehensif bagi klien untuk terlepas dari masalahnya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0in 0in 0pt; mso-list: l0 level1 lfo2; tab-stops: .25in; text-indent: 0in;"&gt;&lt;span style="font-family: Wingdings; font-size: 14pt; line-height: 150%; mso-bidi-font-family: Wingdings; mso-bidi-font-size: 12.0pt; mso-bidi-font-weight: bold; mso-fareast-font-family: Wingdings;"&gt;&lt;span style="mso-list: Ignore;"&gt;w&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="mso-bidi-font-weight: bold;"&gt;Memberikan gambaran yang jelas tentang keadaan klien , berikut prognosis dan riwayat gangguan kejiwaannya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0in 0in 0pt; tab-stops: .25in;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0in 0in 0pt; tab-stops: .25in;"&gt;&lt;b&gt;Psikologi &amp;amp; Psikiatri : Sebuah Kooperasi&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0in 0in 0pt; mso-list: l0 level1 lfo4; tab-stops: .25in; text-indent: 0in;"&gt;&lt;span style="font-family: Wingdings; font-size: 16pt; line-height: 150%; mso-bidi-font-family: Wingdings; mso-bidi-font-size: 12.0pt; mso-bidi-font-weight: bold; mso-fareast-font-family: Wingdings;"&gt;&lt;span style="mso-list: Ignore;"&gt;w&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="mso-bidi-font-weight: bold;"&gt;Dapat menjadi &lt;b&gt;&lt;i&gt;Refferal Agency &lt;/i&gt;&lt;/b&gt;bagi pihak yang lain yang paling sesuai dengan keadaan klien.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0in 0in 0pt; mso-list: l0 level1 lfo4; tab-stops: .25in; text-indent: 0in;"&gt;&lt;span style="font-family: Wingdings; font-size: 16pt; line-height: 150%; mso-bidi-font-family: Wingdings; mso-bidi-font-size: 12.0pt; mso-bidi-font-style: italic; mso-bidi-font-weight: bold; mso-fareast-font-family: Wingdings;"&gt;&lt;span style="mso-list: Ignore;"&gt;w&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="mso-bidi-font-weight: bold;"&gt;Dapat menjadi bahan tilikan bagi pengembangan ilmu masing-masing bidang.&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0in 0in 0pt; mso-list: l0 level1 lfo4; tab-stops: .25in; text-indent: 0in;"&gt;&lt;span style="font-family: Wingdings; font-size: 16pt; line-height: 150%; mso-bidi-font-family: Wingdings; mso-bidi-font-size: 12.0pt; mso-bidi-font-weight: bold; mso-fareast-font-family: Wingdings;"&gt;&lt;span style="mso-list: Ignore;"&gt;w&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="mso-bidi-font-weight: bold;"&gt;Dapat memahami intervensi terhadap klien berdasar masing-masing disiplin ilmu.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0in 0in 0pt; tab-stops: .25in;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0in 0in 0pt; tab-stops: .25in;"&gt;&lt;b&gt;Psikiatri:Sumbangan Untuk Psikologi&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0in 0in 0pt; mso-list: l0 level1 lfo4; tab-stops: .25in; text-indent: 0in;"&gt;&lt;span style="font-family: Wingdings; font-size: 16pt; line-height: 150%; mso-bidi-font-family: Wingdings; mso-bidi-font-size: 12.0pt; mso-bidi-font-weight: bold; mso-fareast-font-family: Wingdings;"&gt;&lt;span style="mso-list: Ignore;"&gt;w&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="mso-bidi-font-weight: bold;"&gt;Pertimbangan Psikologis : Bahan tilikan sebagai Referral dalam psikoterapi atau konseling Psikologis.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0in 0in 0pt; mso-list: l0 level1 lfo4; tab-stops: .25in; text-indent: 0in;"&gt;&lt;span style="font-family: Wingdings; font-size: 16pt; line-height: 150%; mso-bidi-font-family: Wingdings; mso-bidi-font-size: 12.0pt; mso-bidi-font-weight: bold; mso-fareast-font-family: Wingdings;"&gt;&lt;span style="mso-list: Ignore;"&gt;w&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="mso-bidi-font-weight: bold;"&gt;Pertimbangan Lain : Bila ada gangguan yang terklasifikasikan, maka akan ada pembagian diagnosa ke dalam diagnostik yang tak tergolongkan.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0in 0in 0pt 0.5in; mso-list: l1 level1 lfo6; tab-stops: list .5in; text-indent: -0.25in;"&gt;&lt;span style="font-family: Symbol; mso-bidi-font-family: Symbol; mso-bidi-font-weight: bold; mso-fareast-font-family: Symbol;"&gt;&lt;span style="mso-list: Ignore;"&gt;&lt;img alt="*" height="13" src="file:///C:/DOCUME~1/MARKET~1/LOCALS~1/Temp/msohtml1/01/clip_image004.gif" width="13" /&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;b&gt;Pendekatan Deskriptif.&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0in 0in 0pt 0.25in; tab-stops: list .5in; text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;shapetype coordsize="21600,21600" filled="f" id="_x0000_t75" o:preferrelative="t" o:spt="75" path="m@4@5l@4@11@9@11@9@5xe" stroked="f"&gt;&lt;stroke joinstyle="miter"&gt;&lt;/stroke&gt;&lt;formulas&gt;&lt;f eqn="if lineDrawn pixelLineWidth 0"&gt;&lt;/f&gt;&lt;f eqn="sum @0 1 0"&gt;&lt;/f&gt;&lt;f eqn="sum 0 0 @1"&gt;&lt;/f&gt;&lt;f eqn="prod @2 1 2"&gt;&lt;/f&gt;&lt;f eqn="prod @3 21600 pixelWidth"&gt;&lt;/f&gt;&lt;f eqn="prod @3 21600 pixelHeight"&gt;&lt;/f&gt;&lt;f eqn="sum @0 0 1"&gt;&lt;/f&gt;&lt;f eqn="prod @6 1 2"&gt;&lt;/f&gt;&lt;f eqn="prod @7 21600 pixelWidth"&gt;&lt;/f&gt;&lt;f eqn="sum @8 21600 0"&gt;&lt;/f&gt;&lt;f eqn="prod @7 21600 pixelHeight"&gt;&lt;/f&gt;&lt;f eqn="sum @10 21600 0"&gt;&lt;/f&gt;&lt;/formulas&gt;&lt;path gradientshapeok="t" o:connecttype="rect" o:extrusionok="f"&gt;&lt;/path&gt;&lt;lock aspectratio="t" v:ext="edit"&gt;&lt;/lock&gt;&lt;/shapetype&gt;&lt;shape id="_x0000_i1025" o:bullet="t" style="height: 11.25pt; width: 11.25pt;" type="#_x0000_t75"&gt;&lt;imagedata o:title="bd15168_" src="file:///C:\DOCUME~1\MARKET~1\LOCALS~1\Temp\msohtml1\01\clip_image005.gif"&gt;&lt;/imagedata&gt;&lt;/shape&gt;&lt;span style="mso-tab-count: 1;"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;Diagnosa Psikiatri diperlukan karena merupakan pendekatan teoritikal dengan memperhatikan penyebab.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0in 0in 0pt 0.25in; tab-stops: list .5in; text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;shape id="_x0000_i1026" o:bullet="t" style="height: 11.25pt; width: 11.25pt;" type="#_x0000_t75"&gt;&lt;imagedata o:title="bd15168_" src="file:///C:\DOCUME~1\MARKET~1\LOCALS~1\Temp\msohtml1\01\clip_image005.gif"&gt;&lt;/imagedata&gt;&lt;/shape&gt;&lt;span style="mso-tab-count: 1;"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;Diagnosa Psikiatri berusaha menggambarkan apa menifestasi dari gangguan mental yang tentunya sangat diperlukan oleh seorang Psikolog dalam penentuan tindakan yang akan diberikan kepada klien dalam hal Psikoterapinya.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0in 0in 0pt 0.25in; tab-stops: list .5in; text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;shape id="_x0000_i1027" o:bullet="t" style="height: 11.25pt; width: 11.25pt;" type="#_x0000_t75"&gt;&lt;imagedata o:title="bd15168_" src="file:///C:\DOCUME~1\MARKET~1\LOCALS~1\Temp\msohtml1\01\clip_image005.gif"&gt;&lt;/imagedata&gt;&lt;/shape&gt;&lt;span style="mso-tab-count: 1;"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;Dengan Diagnosa Psikiatri dapat dijelaskan bagaimana gangguan tersebut terjadi.Data seperti ini adalah modal yang sangat berharga bagi seorang Psikolog dalam menentukan tindakan dalam kaitannya dengan kecenderungan penyebab gangguan mental yang ada termasuk tindakan yang menyeluruh baik dalam tindakan maupun dalam hal preventif atau rehabilitatifnya.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0in 0in 0pt 0.25in; tab-stops: list .5in; text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;shape id="_x0000_i1028" o:bullet="t" style="height: 11.25pt; width: 11.25pt;" type="#_x0000_t75"&gt;&lt;imagedata o:title="bd15168_" src="file:///C:\DOCUME~1\MARKET~1\LOCALS~1\Temp\msohtml1\01\clip_image005.gif"&gt;&lt;/imagedata&gt;&lt;/shape&gt;&lt;span style="mso-tab-count: 1;"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;Diagnosa Psikiatri merupakan gambaran secara klinis dari gangguan mental yang terjadi.dengan mengetahuinya, Psikolog bisa mennetukan tindakan yang menyeluruh yang mungkin dilakukan dengan multidisiplin ilmu yang lain (&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;misal :Perlukah pasien dirujuk ke Psikiater ?)&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;ol style="margin-top: 0in;" type="1"&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0in 0in 0pt; mso-list: l3 level1 lfo1; tab-stops: list .5in; text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;Kriteria Diagnostik&lt;/b&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0in 0in 0pt 0.25in; tab-stops: list .5in; text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;shape id="_x0000_i1029" o:bullet="t" style="height: 11.25pt; width: 11.25pt;" type="#_x0000_t75"&gt;&lt;imagedata o:title="bd15168_" src="file:///C:\DOCUME~1\MARKET~1\LOCALS~1\Temp\msohtml1\01\clip_image005.gif"&gt;&lt;/imagedata&gt;&lt;/shape&gt;&lt;span style="mso-tab-count: 1;"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;Dengan mengetahui Diagnosa Psikiatri, Psikolog bisa mengetahui ciri-ciri spesifik dari suatu gangguan mental.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0in 0in 0pt 0.25in; tab-stops: list .5in; text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;shape id="_x0000_i1030" o:bullet="t" style="height: 11.25pt; width: 11.25pt;" type="#_x0000_t75"&gt;&lt;imagedata o:title="bd15168_" src="file:///C:\DOCUME~1\MARKET~1\LOCALS~1\Temp\msohtml1\01\clip_image005.gif"&gt;&lt;/imagedata&gt;&lt;/shape&gt;&lt;span style="mso-tab-count: 1;"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;Bermanfaat untuk penggolongan jenis gangguan mental.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;ol start="2" style="margin-top: 0in;" type="1"&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0in 0in 0pt; mso-list: l3 level1 lfo1; tab-stops: list .5in; text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;Deskripsi Sistematik&lt;/b&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0in 0in 0pt 0.25in; tab-stops: list .5in; text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;shape id="_x0000_i1031" o:bullet="t" style="height: 11.25pt; width: 11.25pt;" type="#_x0000_t75"&gt;&lt;imagedata o:title="bd15168_" src="file:///C:\DOCUME~1\MARKET~1\LOCALS~1\Temp\msohtml1\01\clip_image005.gif"&gt;&lt;/imagedata&gt;&lt;/shape&gt;&lt;span style="mso-tab-count: 1;"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;Dengan Diagnosa Psikiatri, Psikolog bisa tahu&lt;b&gt; &lt;/b&gt;gambaran masing –masing gangguan mental dengan ciri-ciri penyertanya Misalnya ; usia spesifik , gender, kultural, prevalensi, insidensi, dan risiko.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0in 0in 0pt 0.25in; tab-stops: list .5in; text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;shape id="_x0000_i1032" o:bullet="t" style="height: 11.25pt; width: 11.25pt;" type="#_x0000_t75"&gt;&lt;imagedata o:title="bd15168_" src="file:///C:\DOCUME~1\MARKET~1\LOCALS~1\Temp\msohtml1\01\clip_image005.gif"&gt;&lt;/imagedata&gt;&lt;/shape&gt;&lt;span style="mso-tab-count: 1;"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;Penelitian Psikolog.Dengan diketahuinya deskripsi sistematik dari diagnosa Psikiatri ,psikolog bisa menjadikannya sebagai bahan acuan bagi penelitiannya dalam bidang Psikologis baik, dari karakteristik gangguan, Preventif, Cuaratif, atau rehabilitatif.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;ol start="3" style="margin-top: 0in;" type="1"&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0in 0in 0pt; mso-list: l3 level1 lfo1; tab-stops: list .5in; text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;Pertimbangan Psikologis.&lt;/b&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0in 0in 0pt 0.5in; mso-list: l2 level1 lfo5; tab-stops: list .5in; text-align: justify; text-indent: -0.25in;"&gt;&lt;span style="font-family: Symbol; mso-bidi-font-family: Symbol; mso-fareast-font-family: Symbol;"&gt;&lt;span style="mso-list: Ignore;"&gt;&lt;img alt="*" height="13" src="file:///C:/DOCUME~1/MARKET~1/LOCALS~1/Temp/msohtml1/01/clip_image004.gif" width="13" /&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;Bila tidak ada gejala fisik yang mengacu pada pastinya diagnosa psikiatri, maka perlu dipertimbangkan pengolahan dari aspek psikologis , misalnya dengan tes Psikologis.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0in 0in 0pt 0.25in; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0in 0in 0pt; tab-stops: .25in;"&gt;&lt;b&gt;Summary: Perbedaan Psikologi &amp;amp;Psikiatri&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0in 0in 0pt; mso-list: l0 level1 lfo2; tab-stops: .25in; text-indent: 0in;"&gt;&lt;span style="font-family: Wingdings; font-size: 14pt; line-height: 150%; mso-bidi-font-family: Wingdings; mso-bidi-font-size: 12.0pt; mso-bidi-font-weight: bold; mso-fareast-font-family: Wingdings;"&gt;&lt;span style="mso-list: Ignore;"&gt;w&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="mso-bidi-font-weight: bold;"&gt;Psikologi Sebagai Dinamika : manusia sebagai mahluk holistik dengan kecenderungan timbulnya perilaku&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0in 0in 0pt; mso-list: l0 level1 lfo2; tab-stops: .25in; text-indent: 0in;"&gt;&lt;span style="font-family: Wingdings; font-size: 14pt; line-height: 150%; mso-bidi-font-family: Wingdings; mso-bidi-font-size: 12.0pt; mso-bidi-font-weight: bold; mso-fareast-font-family: Wingdings;"&gt;&lt;span style="mso-list: Ignore;"&gt;w&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="mso-bidi-font-weight: bold;"&gt;Psikologi sebagai Struktur: manusia terdiri dari struktur yang saling berkaitan.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0in 0in 0pt; mso-list: l0 level1 lfo2; tab-stops: .25in; text-indent: 0in;"&gt;&lt;span style="font-family: Wingdings; font-size: 14pt; line-height: 150%; mso-bidi-font-family: Wingdings; mso-bidi-font-size: 12.0pt; mso-bidi-font-weight: bold; mso-fareast-font-family: Wingdings;"&gt;&lt;span style="mso-list: Ignore;"&gt;w&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="mso-bidi-font-weight: bold;"&gt;Psikiatri sebagai Metrik: Pembagian “wilayah”manusia untuk mengenali gangguan psikiatrik.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0in 0in 0pt; mso-list: l0 level1 lfo2; tab-stops: .25in; text-indent: 0in;"&gt;&lt;span style="font-family: Wingdings; font-size: 14pt; line-height: 150%; mso-bidi-font-family: Wingdings; mso-bidi-font-size: 12.0pt; mso-bidi-font-weight: bold; mso-fareast-font-family: Wingdings;"&gt;&lt;span style="mso-list: Ignore;"&gt;w&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="mso-bidi-font-weight: bold;"&gt;Psikiatri Sebagai Proses: Penentuan diagnosa dengan proses terukur&lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; line-height: 150%; mso-bidi-font-size: 12.0pt;"&gt;.&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0in 0in 0pt; tab-stops: .25in;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;b style="mso-bidi-font-weight: normal;"&gt;Summary :&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;Kerjasama Psikologi &amp;amp;Psikiatri&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0in 0in 0pt; mso-list: l0 level1 lfo4; text-align: justify; text-indent: 0in;"&gt;&lt;span style="font-family: Wingdings; font-size: 16pt; line-height: 150%; mso-bidi-font-family: Wingdings; mso-bidi-font-size: 12.0pt; mso-fareast-font-family: Wingdings;"&gt;&lt;span style="mso-list: Ignore;"&gt;w&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;Persamaan Sudut Pandang Kejiwaan : Persamaan dalam model Biopsikososial,tekhnik pendekatan spesifik dan penanganan klien yang manusiawi.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0in 0in 0pt; mso-list: l0 level1 lfo4; text-align: justify; text-indent: 0in;"&gt;&lt;span style="font-family: Wingdings; font-size: 16pt; line-height: 150%; mso-bidi-font-family: Wingdings; mso-bidi-font-size: 12.0pt; mso-fareast-font-family: Wingdings;"&gt;&lt;span style="mso-list: Ignore;"&gt;w&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;Persamaan teknik Terapi.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;b style="mso-bidi-font-weight: normal;"&gt;Summary : Sumbangan Psikiatri untuk Psikologi&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0in 0in 0pt; mso-list: l0 level1 lfo4; text-align: justify; text-indent: 0in;"&gt;&lt;span style="font-family: Wingdings; font-size: 16pt; line-height: 150%; mso-bidi-font-family: Wingdings; mso-bidi-font-size: 12.0pt; mso-fareast-font-family: Wingdings;"&gt;&lt;span style="mso-list: Ignore;"&gt;w&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;Pendekatan deskriptif&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0in 0in 0pt; mso-list: l0 level1 lfo4; text-align: justify; text-indent: 0in;"&gt;&lt;span style="font-family: Wingdings; font-size: 16pt; line-height: 150%; mso-bidi-font-family: Wingdings; mso-bidi-font-size: 12.0pt; mso-fareast-font-family: Wingdings;"&gt;&lt;span style="mso-list: Ignore;"&gt;w&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;Kriteria Diagnostik&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0in 0in 0pt; mso-list: l0 level1 lfo4; text-align: justify; text-indent: 0in;"&gt;&lt;span style="font-family: Wingdings; font-size: 16pt; line-height: 150%; mso-bidi-font-family: Wingdings; mso-bidi-font-size: 12.0pt; mso-fareast-font-family: Wingdings;"&gt;&lt;span style="mso-list: Ignore;"&gt;w&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;Deskripsi Sistematik.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0in 0in 0pt; mso-list: l0 level1 lfo4; text-align: justify; text-indent: 0in;"&gt;&lt;span style="font-family: Wingdings; font-size: 16pt; line-height: 150%; mso-bidi-font-family: Wingdings; mso-bidi-font-size: 12.0pt; mso-fareast-font-family: Wingdings;"&gt;&lt;span style="mso-list: Ignore;"&gt;w&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;Pertimbangan Psikologis.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0in 0in 0pt; mso-list: l0 level1 lfo4; text-align: justify; text-indent: 0in;"&gt;&lt;span style="font-family: Wingdings; font-size: 16pt; line-height: 150%; mso-bidi-font-family: Wingdings; mso-bidi-font-size: 12.0pt; mso-fareast-font-family: Wingdings;"&gt;&lt;span style="mso-list: Ignore;"&gt;w&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;Pertimbangan Klinis yang lain&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"&gt;Daftar Pustaka&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0in 0in 0pt; mso-list: l0 level1 lfo4; text-align: justify; text-indent: 0in;"&gt;&lt;span style="font-family: Wingdings; font-size: 16pt; line-height: 150%; mso-bidi-font-family: Wingdings; mso-bidi-font-size: 12.0pt; mso-fareast-font-family: Wingdings;"&gt;&lt;span style="mso-list: Ignore;"&gt;w&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;Sinopsis Psikiatri;Harold I Kaplan;Benjamin J Sadock;Jack A Grebb , Binarupa Aksara, 1997.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0in 0in 0pt; mso-list: l0 level1 lfo4; text-align: justify; text-indent: 0in;"&gt;&lt;span style="font-family: Wingdings; font-size: 16pt; line-height: 150%; mso-bidi-font-family: Wingdings; mso-bidi-font-size: 12.0pt; mso-fareast-font-family: Wingdings;"&gt;&lt;span style="mso-list: Ignore;"&gt;w&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;Handout Psikologi Klinis ; Hilda I, Untag &lt;place w:st="on"&gt;&lt;city w:st="on"&gt;Surabaya&lt;/city&gt;&lt;/place&gt;, 2001.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/926888330575414899-8886981603722178949?l=psikologiindonesia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='related' href='http://www.psikologiindonesia.blogspot.com' title='Psikolog dan Diagnosa Psikiatri'/><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://psikologiindonesia.blogspot.com/feeds/8886981603722178949/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=926888330575414899&amp;postID=8886981603722178949&amp;isPopup=true' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/926888330575414899/posts/default/8886981603722178949'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/926888330575414899/posts/default/8886981603722178949'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://psikologiindonesia.blogspot.com/2011/05/psikolog-dan-diagnosa-psikiatri.html' title='Psikolog dan Diagnosa Psikiatri'/><author><name>psikologi-indonesia.blogspot.com</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05745403077313996986</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-926888330575414899.post-723650775651898437</id><published>2011-05-02T17:00:00.000+07:00</published><updated>2011-05-02T17:00:12.074+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Psikologi Klinis'/><title type='text'>BERGANTI HATI (AKA SELINGKUH )</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;Salam kelirumologi dari saya , Marbusan ! Saudara, pasti anda pernah menndengar kalimat tersebut diatas . Ya , apabila seorang mencoba beralih ke lain hati padahal anda sudah memiliki pasangan ( meskipun belum resmi sekalipun ) , maka bisa dikatakan bahwa anda sudah melakukan perselingkuhan .&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;Kemudian , bagaimana kelirumologi melihat hal tersebut ? Mari kita simak&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&lt;span style="mso-tab-count: 1;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;Saudara, pertanyaan pertama yang lebih banyak diajukan adalah mengapa seseorang melakukan perselingkuhan ? Banyak yang akan menjawab , karena rasa sayang atau cinta yang baru mengalahkan cinta kepada pasangan .Benarkah demikian ? Saudara , secara kelirumologis , saya membedakan perasaan cinta secara fisik temporer dan cinta sejati . Apakah cinta itu ? Kaum kedokteran menyatakan bahwa cinta adalah reaksi kimiawi diantara dua mahluk beda jenis kelamin yang melibatkan neurotransmitter terutama serotonin . namun perlu diingat bahwa efek yang ditimbulkan bersifat fisik dan sementara semata , sedangkan hubungan yang bersifat jangka panjang memerlukan hal yang lebih dari sekedar cinta . Baik ,mari kita &lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;bahas penyebab perselingkuhan dari sudut kelirumologi .&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;b style="mso-bidi-font-weight: normal;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;1 . Kisah Lama vs Kisah Basi &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;Saudara , seringkali seseorang melakukan perselingkuhan dengan cinta terdahulunya Alasan bahwa masih cinta dengan “mantan” adalah alasan terbanyak untuk perselingkuhan tipe ini . Saudara , &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;come back &lt;/i&gt;&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;dengan mantan memang menyenangkan , karena kita sudah mengenal dengan baik dan tak perlu lagi ada proses perkenalan yang kadang kala bisa lama . &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;Namun , saya selalu mengingatkan bahwa come back dengan mantan berarti kita kembali kepada permasalahan yang sama yang membuat kita putus , kita kembali pada orang yang sama yang membuat kita marah dan putus ( atau singkatnya kita menghadapi masalah , pola pandang , lingkungan , persepsi&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;, dan pola pikir yang sama ) . Siapkah kita menghadapi badai yang sama seandainya kita come back tidak dengan pola pikir yang berbeda dan lebih dewasa ? Pastilah putus lagi dan lagi . Apakah anda secara kelirumologi siap kehilangan pasangan demi orang yang tidak dapat anda miliki ? &lt;span style="mso-tab-count: 1;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;Siapkah anda secara kelirumologi menukar orang yang telah siap berbagi kisah sampai mati dengan orang yang kisahnya sudah basi ?&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;b style="mso-bidi-font-weight: normal;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;2. MASIH LAKU vs &lt;place w:st="on"&gt;&lt;city w:st="on"&gt;TIDAK&lt;/city&gt; &lt;state w:st="on"&gt;PE&lt;/state&gt;&lt;/place&gt; DE&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;span style="mso-tab-count: 1;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;Saudara&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;, banyak perselingkuhan dimulai pada saat usia mapan , yaitu 40 tahun. &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;Life begins at 40&lt;/i&gt; katanya , meskipun kita gak tahu &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;“life”&lt;/i&gt; sepeti apa yang kita jalani tersebut. Seiring dengan perbaikan ekonomi dan pekerjaan yang dibarengi dengan menurunnya vitalitas tubuh dan keriput membuat seseorang berpikir apakah dirinya masih menarik bagi lawan jenisnya . Hal ini yang banyak orang sebut dengan puber kedua , meskipun dalam psikologi tidak ada istilah tersebut . Perselingkuhan yang dilakukan dalam usia tersebut lebih disebabkan adanya keinginan membuktikan bahwa dirinya masih menarik bagi lawan jenis . Dan pembuktian diri dengan cara demikian sesungguhnya secara kelirumologi merupakan tipikal sifat orang yang tidak pede . &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&lt;span style="mso-tab-count: 1;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;Saudara , apabila anda cukup pede dengan daya tarik anda , anda tidak perlu eksplorasi keluar untuk membuktikanya . Tantangannya adalah bagaimana anda memanfaatkan daya tarik anda untuk memikat kembali pasangan anda , dan menghidupkan kembali ( maaf ) “gairah dewasa” anda yang mungkin meredup selama ini. Bagaimana , tantangan mana yang anda pilih , memikat orang lain atau memikat kembali cinta pasangan anda ? &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;It’s Your own choice , be wise!&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;b style="mso-bidi-font-weight: normal;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;3. JENUH vs RASA BERSALAH .&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span style="mso-tab-count: 1;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;Saudara , pernahkah anak anda mengatakan bosan bersekolah ? apakah anda menyetujui bila ia ingin berhenti sekolah ? tentu tidak, bukan ? Bagaimana bila anda jenuh bekerja ? Mau berhenti kerja ? ( Maaf, saya menggunakan kalimat “kerja” bukan jenuh di “tempat kerja” ) Tentu tidak, karena anda bisa kelaparan . Saudara , perjumpaan yang setiap hari dengan orang yang sama dalam situasi yang sama memang bisa menciptakan kejenuhan .Adalah suatu tantangan untuk bisa mengelola rasa jenuh agar tidak mengambil keputusan tergesa-gesa yang bisa jadi kelirumologis . Logikanya , meskipun anda berpindah ke lain hati sekalipun , bila sekian lama andapun bisa jenuh juga . Sampai dimana kemampuan anda untuk selalu “berganti hati” ? Bagaimana anda menghadapi rasa BERSALAH karena meninggalkan keluarga anda ?&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;Saudara , demikian pembahasan kita kali ini . Bagaimana menurut anda ? Apakah anda setuju dengan saya ? Salam kelirumologi dari saya , Marbusan !&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/926888330575414899-723650775651898437?l=psikologiindonesia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='related' href='http://www.psikologiindonesia.blogspot.com' title='BERGANTI HATI (AKA SELINGKUH )'/><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://psikologiindonesia.blogspot.com/feeds/723650775651898437/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=926888330575414899&amp;postID=723650775651898437&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/926888330575414899/posts/default/723650775651898437'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/926888330575414899/posts/default/723650775651898437'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://psikologiindonesia.blogspot.com/2011/05/berganti-hati-aka-selingkuh.html' title='BERGANTI HATI (AKA SELINGKUH )'/><author><name>psikologi-indonesia.blogspot.com</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05745403077313996986</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-926888330575414899.post-2090277786766243142</id><published>2011-05-02T16:58:00.001+07:00</published><updated>2011-05-02T17:01:39.191+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Psikologi Klinis'/><title type='text'>MENGENAL PSIKOANALISA FREUDIAN ( Bagian I )</title><content type='html'>&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0in 0in 0pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoBodyText" style="margin: 0in 0in 0pt;"&gt;Salam Psikologi Klinis dari saya,Marbusan.Saudara, siapa yang tak kenal dengan Sigmund Freud ? bagi kalangan Ilmuwan Psikologi,Freud dianggap sebagai tokoh utama yang meletakkan dasar-dasar Psikoanalisa .Terlepas dari beberapa kelemahannya, Psikoanalisa Klasik milik Freud adalah sebuah pemantik bagi timbulnya aliran-aliran baru dalam Psikologi, tidak hanya terbatas dalam pengembangan Psikoanalisa saja dimana kita bisa mengingat Erik Homburger Eriksson yang mengembangkan teori psikososial usia tua dimana teori Freud hanya mencapai usia dewasa saja , sampai dengan Hary Stack Sullivan yang mendalami penelitian Skizofrenia. Saudara , semoga tulisan ini dapat bermanfaat .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"&gt;Saudara, sebagaimana pepatah yang mengatakan “tak kenal maka tak sayang”, maka Marbusan hendak mengingatkan sekelumit data tetang tokoh kita kali ini. Sigmund Freud lahir di Moravia &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/6_Mei" title="6 Mei"&gt;&lt;span style="color: windowtext; text-decoration: none; text-underline: none;"&gt;6 Mei&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/1856" title="1856"&gt;&lt;span style="color: windowtext; text-decoration: none; text-underline: none;"&gt;1856&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; dan wafat di London pada tanggal &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/23_September" title="23 September"&gt;&lt;span style="color: windowtext; text-decoration: none; text-underline: none;"&gt;23 September&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/1939" title="1939"&gt;&lt;span style="color: windowtext; text-decoration: none; text-underline: none;"&gt;1939&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;.Ia menghabiskan semua waktunya di Wina dan meninggal dalam pelariannya ketika Hitler menginvasi Austria pada 1939.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"&gt;Kisahnya dimulai dengan memasuki jurusan kedokteran di universitas Wina pada tahun 1873 dimana ia belajar selama 8 tahun.Freud tercatat memiliki seorang guru yang bernama Jean Charcot .Freud segera menyadari bahwa teknik hypnosis yang dipelajarinya bersama Charcot tidak terlalu banyak membantunya dalam menangani pasiennya . &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"&gt;Nasib kemudian membawanya kepada seorang dokter di Wina bernama Joseph Breuer&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;dan kemudian bersamanya Freud mengembangkan suatu metode penyembuhan pasien dengan menggunakan metode pengungkapan yang belakangan banyak dikenal sebagai Asosiasi Bebas. Banyak pasien keduanya terutama pada kasus hysteria yang berhasil diterapi dengan metode ini.Namun perbedaan pendapat mengenai penyebab hysteria membuat keduanya berpisah dan Freud mengembangkan pandangannya sendiri yang didirikan diatas fondasi&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;pada konflik seksual.Salah satu karya monumentalnya adalah buku interpretasi mimpi yang diterbitkan tahun 1900.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;h2 style="margin: 0in 0in 0pt;"&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;STRUKTUR KEPRIBADIAN&lt;span style="font-weight: normal;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/h2&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"&gt;Menurut Freud , struktur kepribadian dibagi menjadi tiga , yaitu &lt;b&gt;id,ego, dan super ego&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;h3 style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-size: small;"&gt;ID&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/h3&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;Dalam buku psikologi kepribadian yag ditulis oleh Calvin S Hall dan Gardner Lindzey, &lt;b&gt;&lt;i&gt;id&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; disebut sebagai suatu system kepribadian yang asli , dimana dari sinilah ego dan super ego berasal.Namun melihat dari struktur &lt;b&gt;&lt;i&gt;id&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; itu sendiri , penulis berpendapat bahwa id lebih tepat dikatakan sebagai system “dorongan internal” daripada dikatakan sebagai suatu system “kepribadian” .&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"&gt;Hal ini didasarkan kepada kenyataan bahwa &lt;b&gt;&lt;i&gt;id&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; &lt;b&gt;&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;itu sendiri merupakan &lt;i&gt;reservoir &lt;/i&gt;energi yang cenderung mencari pelampiasan dan pemenuhan kepuasan sehingga perlu dikontrol dengan system kepribadian yang lain .&lt;b&gt;&lt;i&gt;Id &lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;hanya mampu melihat dunia secara subyektif, karena memang ia diciptakan tanpa adanya pertimbangan secara obyektif dari dunia sekitarnya.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"&gt;Penulis mengibaratkan bahwa &lt;b&gt;&lt;i&gt;id &lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;sebuah generator yang menghasilkan tegangan listrik, namun tetap memerlukan kabel untuk menyalurkan listrik serta perlunya sebuah alat pengaman agar tidak terjadi korsluiting listrik .Pun halnya dengan &lt;b&gt;&lt;i&gt;id&lt;/i&gt;, &lt;/b&gt;bahwa ia hanyalah sebuah &lt;i&gt;reservoir &lt;/i&gt;yang memerlukan unsur lain dalam keberadaannya . Sebagai contoh , &lt;b&gt;&lt;i&gt;id &lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;akan mengalami peningkatan tegangan dan&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;id &lt;/i&gt;&lt;/b&gt;bertugas menurunkan tegangan tersebut baik yang didapatnya dari stimulus ekseternal maupun internal.Untuk melakukannya, ia memerlukan suatu mekanisme yang disebut&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;i&gt;pleasure princple.&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"&gt;Berbicara mengenai &lt;i&gt;pleasure principle&lt;/i&gt; , kita harus mengetahui bahwa prinsip tersebut dibagi menjadi dua proses , yaitu &lt;i&gt;tindakan refleks &lt;/i&gt;dan &lt;i&gt;proses primer.&lt;/i&gt; Sebagaimana sudah kita ketahui bersama, bahwa tindakan refleks bersifat spontan , bahkan tanpa kitab persiapkan maupun dipikir terlebih dahulu .Bersin , adalah salah satu contoh tindakan refleks yang berfungsi menurunkan tegangan yang dialami oleh manusia .&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"&gt;Mungkin anda bertanya mengapa bersin yang jamak diketahui sebagai kegiatan fisiologis fisik dimasukkan sebagai contoh system kepribadian yang merupakan ranah psikologi? Jawabannya adalah Freud menganut &lt;i&gt;filsafat determinisme &lt;/i&gt;dan &lt;i&gt;&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;positivisme&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;yang mengangap bahwa energi manusia adalah energi kompleks .Singkatnya sebagai contoh adalah Marbusan makan nasi dan lauk ikan asin .Energi yang didapat Marbusan dari makan disebut energi kompleks karena dapat digunakan untuk berlari , untuk berpikir dan lain-lain.pada abad XIX ilmu pengetahuan tidak memisahkan antara energi psikis dan energi psikologis &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"&gt;Sedangkan proses primer ditujukan untuk meredakan ketegangan yang lebih rumit .Freud menjelaskan bahwa proses ini bekerja dengan membentuk khayalan tentang obyek pemuas keinginan tersebut .Contohnya adalah pada saat Marbusan kelelahan bekerja , marbusan selalu membayangkan betapa enaknya tidur di kasur yang empuk sambil dipijat dengan menggunakan balsam .Pengalaman &lt;i&gt;halusinatorik&lt;/i&gt; ini direkam dalam memori sebagai &lt;i&gt;pemenuhan hasrat.&lt;/i&gt; Pengamatan Marbusan bahwa proses halusinatorik ini biasanya bersifat khas dan berulang .Karena disimpan dalam memori yang terletak dalam alam bawah sadar , pengalaman halusinatorik tersebut dapat muncul dalam bentuk mimpi ketika kontrol ego berkurang pada saat tidur.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"&gt;Sekali lagi penegasan bahwa apapun mekanismenya , &lt;b&gt;&lt;i&gt;id &lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;hanya memiliki kekuatan untuk mendorong pada usaha real untuk memuaskan keinginannya dan meredakan ketegangan yang dialami .Kiranya jelas bahwa khayalan untuk tidur di kasur empuk dan dipijat dengan balsam tidak akan pernah mampu menghilangkan kelelahan bekerja yang dialami marbusan ,demikian juga keinginan yang belum terpenuhi untuk makan soto daging di Jalan Sulung sehingga terhadirkan dalam mimpipun tidak mampu menghadirkan pemuasan sampai pengalaman real terjadi .Oleh karena itu,maka diperlukan struktur kepribadian kedua yaitu&lt;b&gt; ego&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;h4 style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"&gt;Ego&lt;/h4&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;Saudara , sebagaimana anda yang harus membeli/memasak&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;makanan bila lapar ,maka &lt;b&gt;ego &lt;/b&gt;&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;bertindak sebagai agen transaksi kebutuhan organisme menjadi kenyataan obyektif. Dalam tahapan ini &lt;b&gt;ego &lt;/b&gt;&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;adalah pembeda antara angan-angan ataupun impian dimana&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;hanya inilah yang bisa dikenali oleh &lt;b&gt;&lt;i&gt;id &lt;/i&gt;&lt;/b&gt;dengan usaha untuk memperoleh angan-angan tersebut .&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;Prinsip kerja &lt;b&gt;ego &lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;Ego &lt;/b&gt;memiliki dua cara kerja yaitu &lt;i&gt;prinsip kenyataan &lt;/i&gt;&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;dan &lt;i&gt;proses sekunder.&lt;/i&gt;Tujuan prinsip kenyataan adalah mencegah adanya ketegangan sampai dengan ditemukannya suatu objek yang cocok untuk pemuasan kebutuhan .Sebenarnya prinsip ini mempertanyakan apakah keinginan yang merupakan hasrat dapat dipuaskan ataukah alat pemuasnya ada di dunia nyata&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;ini. Misalnya , Marbusan ingin punya Mercedez Benz keluaran terbaru , namun dengan prinsip kenyataan Marbusan tahu bahwa angan-angan tersebut&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;tidak dapat direalisasikan saat ini juga karena uang pembelinya yang belum Marbusan miliki.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"&gt;Proses sekunder adalah proses berpikir secara realita.Dengan proses ini , &lt;b&gt;ego &lt;/b&gt;&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;menyusun rencana untuk memuaskan keinginan yang berasal dari &lt;b&gt;id.&lt;/b&gt; Hal ini disebut dengan &lt;i&gt;reality testing&lt;/i&gt; .Misalnya marbusan lapar, dalam hal ini Marbusan akan mepertimbangkan mulai dari mau makan apa, beli dimana , sampai dengan bagaimana cara pergi ke tempat penjual makanan tersebut. Untuk bisa melakukan hal tersebut , &lt;b&gt;ego &lt;/b&gt;&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;memerlukan kapasitas kognitif dan intelektual.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"&gt;Terkadang , ada begitu banyak tuntutan yang ingin dipuaskan.&lt;b&gt;Ego &lt;/b&gt;&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;sebagai eksekutif kepribadianlah yang memberikan skala prioritas , jenis tindakan yang akan dilakukan&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;dan juga termasuk caranya .Terkadang pula ada begitu banyak &lt;i&gt;konflik &lt;/i&gt;&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;(akan dibahas dalam kesempatan yang berbeda) atau keadaan dimana seorang individu harus memilih, maka &lt;b&gt;ego&lt;/b&gt;lah yang melakukan tugas tersebut .&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"&gt;Dalam struktur kepribadian , &lt;b&gt;ego &lt;/b&gt;memang dikendalikan oleh &lt;b&gt;superego &lt;/b&gt;&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;sebagai kaidah norma namun yang perlu diingat adalah &lt;b&gt;ego &lt;/b&gt;&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;memang memberikan pertimbangan kepada &lt;b&gt;id &lt;/b&gt;&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;dalam hal pemuasan tegangannya, namun peran&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;b&gt;ego &lt;/b&gt;&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;adalah memuaskan , dan bukannya mengekang &lt;b&gt;id . &lt;/b&gt;&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;h4 style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;/h4&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/926888330575414899-2090277786766243142?l=psikologiindonesia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='related' href='http://www.psikologiindonesia.blogspot.com' title='MENGENAL PSIKOANALISA FREUDIAN ( Bagian I )'/><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://psikologiindonesia.blogspot.com/feeds/2090277786766243142/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=926888330575414899&amp;postID=2090277786766243142&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/926888330575414899/posts/default/2090277786766243142'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/926888330575414899/posts/default/2090277786766243142'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://psikologiindonesia.blogspot.com/2011/05/mengenal-psikoanalisa-freudian-bagian-i.html' title='MENGENAL PSIKOANALISA FREUDIAN ( Bagian I )'/><author><name>psikologi-indonesia.blogspot.com</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05745403077313996986</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-926888330575414899.post-291117794864698632</id><published>2011-05-02T16:54:00.001+07:00</published><updated>2011-05-02T16:55:22.120+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Psikologi Klinis'/><title type='text'>PERILAKU BUNUH DIRI</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="background: #f8fcff; line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN" style="mso-ansi-language: EN; mso-bidi-font-weight: bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="background: #f8fcff; line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN" style="mso-ansi-language: EN; mso-bidi-font-weight: bold;"&gt;Salam Psikologi Klinis l dari saya , Marbusan !Saudara , kehidupan yang semakin keras seringkali dirasa terlalu berat bagi beberapa kelompok didalam masyarakat . Hal ini dapat direfleksikan dari tingkat kejadian bunuh diri yang semakin banyak dengan tingkat usia pelaku bunuh diri yang semakin muda . Kali ini saya akan mengajak anda untuk melihat fenomena bunuh diri dari berbagai sudut pandang sosial , &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;belief system &lt;/i&gt;&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;dan tentu saja dari sudut pandang Psikologi Klinis . Semoga bermanfaat !&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span lang="EN" style="mso-ansi-language: EN; mso-bidi-font-weight: bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;div style="background: #f8fcff; line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="background: #f8fcff; line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="background: #f8fcff; line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN" style="mso-ansi-language: EN; mso-bidi-font-weight: bold;"&gt;Saudara , bunuh diri atau &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;suicide &lt;/i&gt;&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;dalam bahasa Inggrisnya berasal dari bahasa Latin &lt;/span&gt;&lt;b style="mso-bidi-font-weight: normal;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="EN" style="mso-ansi-language: EN;"&gt;sui caedere&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;span lang="EN" style="mso-ansi-language: EN;"&gt;, yang berarti membunuh diri sendiri adalah tindakan yang ditujukan untuk mengakhiri hidup sang pelaku sendiri &lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;. Secara garis besar , bunuh diri terjadi karena dua hal :&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="background: #f8fcff; line-height: 150%; margin-left: 0.5in; mso-list: l0 level1 lfo2; tab-stops: list .5in; text-align: justify; text-indent: -0.25in;"&gt;&lt;span lang="EN" style="mso-ansi-language: EN;"&gt;&lt;span style="mso-list: Ignore;"&gt;1.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;b style="mso-bidi-font-weight: normal;"&gt;&lt;span lang="EN" style="mso-ansi-language: EN;"&gt;Bunuh diri irasional&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span lang="EN" style="mso-ansi-language: EN;"&gt; : terjadi karena pengaruh obat ( misalnya obat –obatan yang memiliki efek paranoia ) , atau karena penyakit organik ( misalnya &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;schizophrenia &lt;/i&gt;&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;yang diikuti oleh waham nihilistik )&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="background: #f8fcff; line-height: 150%; margin-left: 0.5in; mso-list: l0 level1 lfo2; tab-stops: list .5in; text-align: justify; text-indent: -0.25in;"&gt;&lt;span lang="EN" style="mso-ansi-language: EN;"&gt;&lt;span style="mso-list: Ignore;"&gt;2.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;b style="mso-bidi-font-weight: normal;"&gt;&lt;span lang="EN" style="mso-ansi-language: EN;"&gt;Bunuh diri rasional&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span lang="EN" style="mso-ansi-language: EN;"&gt; : Terjadi melalui pertimbangan akal , misalnya bunuh diri karena kesulitan ekonomi .&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="background: #f8fcff; line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN" style="mso-ansi-language: EN;"&gt;Di sisi lain , ada banyak hal yang melatarbelakangi mengapa seseorang atau sekelompok orang melakukan perbuatan ini , yaitu :&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="background: #f8fcff; line-height: 150%; margin-left: 0.5in; mso-list: l1 level1 lfo1; tab-stops: list .5in; text-align: justify; text-indent: -0.25in;"&gt;&lt;span lang="EN" style="mso-ansi-language: EN;"&gt;&lt;span style="mso-list: Ignore;"&gt;1.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;b style="mso-bidi-font-weight: normal;"&gt;&lt;span lang="EN" style="mso-ansi-language: EN;"&gt;Permasalahan Psikologis&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span lang="EN" style="mso-ansi-language: EN;"&gt; seperti Depresi , rasa malu ( saya bedakan antara malu dan dilecehkan ), rasa takut terhadap sesuatu ( sampai dengan tahap phobia ) .Secara umum bunuh diri karena permasalahan Psikologis adalah kegagalan seseorang melakukan coping ( penyesuaian diri ) dari permasalahan yang dihadapinya . Biasanya orang yang melakukan tindakan ini adalah orang yang bersifat introvert , dan metodenya biasanya memilih cara yang masih memungkinkan dirinya diselamatkan orang lain , misalnya memilih minum racun yang prosesnya lebih lama untuk meninggal daripada memilih metode menabrakkan diri ke kereta api . Biasanya mereka adalah golongan orang yang mengalami kesulitan psikologis namun kesulitan mengutarakan permasalahannya , atau merasa tidak ada yang mendukung hidupnya .&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="background: #f8fcff; line-height: 150%; margin-left: 0.5in; mso-list: l1 level1 lfo1; tab-stops: list .5in; text-align: justify; text-indent: -0.25in;"&gt;&lt;span lang="EN" style="mso-ansi-language: EN;"&gt;&lt;span style="mso-list: Ignore;"&gt;2.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;b style="mso-bidi-font-weight: normal;"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;&lt;span lang="EN" style="mso-ansi-language: EN;"&gt;Belief System &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;&lt;span lang="EN" style="mso-ansi-language: EN;"&gt;&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span lang="EN" style="mso-ansi-language: EN;"&gt;&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;atau sistem kepercayaan dimana orang menafsirkan arti kematian akibat perbuatan bunuh diri dilihat dari sudut pandang keyakinan yang mereka miliki . Kebanyakan Agama yang dianut di dunia saat ini memandang bahwa bunuh diri adalah dosa atau perbuatan setan . Islam bahkan memandang bunuh diri sebagai dosa besar yang diancam dengan memasukkan pelakunya kedalam neraka . &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="background: #f8fcff; line-height: 150%; margin-left: 0.5in; mso-list: l1 level1 lfo1; tab-stops: list .5in; text-align: justify; text-indent: -0.25in;"&gt;&lt;span lang="EN" style="mso-ansi-language: EN;"&gt;&lt;span style="mso-list: Ignore;"&gt;3.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;b style="mso-bidi-font-weight: normal;"&gt;&lt;span lang="EN" style="mso-ansi-language: EN;"&gt;Kehormatan Sosial : &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span lang="EN" style="mso-ansi-language: EN;"&gt;Pandangan bahwa bunuh diri adalah perbuatan mulia rupanya dipegang teguh oleh bansa Jepang dengan melihat bahwa bunuh diri adalah cara yang lebih terhormat untuk&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;“hidup” daripada hidup dengan rasa malu bangsa Jepang memilih untuk melakukan Seppuku atau menusuk dan memotong perut dengan Katana (pedang ) dalam melakukan bunuh diri . Istilah yangs ering disalahartikan adalah harakiri dimana arti sesungguhnya adalah sama dengan seppuku ( menusuk &amp;amp; memotong perut = harai adalah sapuan atau potongan dan kiri adalah perut ) .Banyak orang mengartikan bahwa gantung diri juga harakiri , padahal metode yang digunakan sama sekali berbeda .Bahkan di Jepang pada tahun 70-an ada tempat yang dinamakan “Never return forrest” yang menjadi tempat orang melakukan bunuh diri . sampai saat ini Jepang masih menjadi tempat dimana angka bunuh dirinya tertinggi didunia &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="background: #f8fcff; line-height: 150%; margin-left: 0.5in; mso-list: l1 level1 lfo1; tab-stops: list .5in; text-align: justify; text-indent: -0.25in;"&gt;&lt;span lang="EN" style="mso-ansi-language: EN;"&gt;&lt;span style="mso-list: Ignore;"&gt;4.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;b style="mso-bidi-font-weight: normal;"&gt;&lt;span lang="EN" style="mso-ansi-language: EN;"&gt;Bunuh Diri Medis ( Euthanasia ) &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span lang="EN" style="mso-ansi-language: EN;"&gt;Bunuh diri yang satu ini sampai sekarang menjadi kontroversial mengenai legalitasnya . Euthanasia biasanya dilakukan pada pasien yang secara medis tidak mungkin sembuh, atau pasien yang karena sakitnya menderita sakit yang tak tertahankan .Pengorbanan diri untuk tidak menjadi beban bagi orang lain seringkali dijadikan alasan orang melakukan tindakan ini . &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="background: #f8fcff; line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="background: #f8fcff; line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="background: #f8fcff; line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="background: #f8fcff; line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;b style="mso-bidi-font-weight: normal;"&gt;&lt;span lang="EN" style="mso-ansi-language: EN;"&gt;STATISTIKA BUNUH DIRI&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="background: #f8fcff; line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN" style="mso-ansi-language: EN;"&gt;Dalam setahun, hampir ada satu juta orang meninggal karena bunuh diri di dunia .Diperkirakan 10 sampai dengan 20 juta orang mencoba bunuh diri setiap tahunnya . Dalam jumlah tersebut, sebanyak 60.000 orang melakukan bunuh diri di Rusia , 30.000 di AS, dan 30.000 lainnya di Jepang , dan di Cina ada kurang lebih 250.000 bunuh diri terjadi . Secara statistika perilaku terdapat kenyataan yang unik dimana kejadian bunuh diri lebih banyak dilakukan oleh kaum pria dengan perbandingan rasio 4:1, namun angka percobaan bunuh diri lebih banyak dilakukan oleh kaum hawa .Hal ini membuktikan bahwa keinginan untuk diperhatikan lebih besar pada kaum hawa .Namun hal ini tidak berlaku di India dimana angka kejadian bunuh diri disana yang melibatkan wanita lebih banyak yaitu 3:1. Dalam hal ini , percobaan bunuh diri masih bersifat ambigu , dimana percobaan bunuh diri sebetulnya hanyalah alat untuk “meminta tolong” pada lingkungan sekitarnya. Tingkatan kejadian bunuh diri pada wanita juga ditemukan tinggi di Cina . Dari tingkatan usia , tingkatan tertinggi adalah kaum pria dewasa , meskipun bunuh diri pada usia yang lebih dinipun menunjukkan kecenderungan meningkat. Negara-negara pecahan Uni Soviet adalah penyumbang terbesar&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;dari bunuh diri , sedangkan kebalikannya adalah di wilayah Amerika Latin . &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="background: #f8fcff; line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="background: #f8fcff; line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="background: #f8fcff; line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="background: #f8fcff; line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="background: #f8fcff; line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="background: #f8fcff; line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="background: #f8fcff; line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="background: #f8fcff; line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="background: #f8fcff; line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;b style="mso-bidi-font-weight: normal;"&gt;&lt;span lang="EN" style="mso-ansi-language: EN;"&gt;Pandangan-pandangan tentang Bunuh Diri&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="background: #f8fcff; line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN" style="mso-ansi-language: EN;"&gt;&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;Terdapat banyak pendapat yang menyatakan bahwa bunuh diri adalah perbuatan tidak bermaral dan beretika . Pendapat yang terkenal menyatakan bahwa sesungguhnya alasan yang seringkali digunakan untuk melakukan bunuh diri , semisal depresi atau kesulitan ekonomi , lebih sering bersifat sementara dan dapat dicarikan jalan keluarnya dan dapat dilakukan terapi psikologis dan perubahan &lt;place w:st="on"&gt;&lt;city w:st="on"&gt;gaya&lt;/city&gt;&lt;/place&gt; hidup . Seorang penderita depresi yang mencoba bunuh diri dengan melompat dari jembatan menyatakan bahwa pada saat dia melompat , dia menyadari bahwa semua permasalahan yang dia alami sesungguhnya bisa diatasi , kecuali permasalahan bahwa dia telah melompat dari jembatan . Hal ini sungguh unik, karena seseorang ternyata dapat mengalami &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;insight &lt;/i&gt;&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;dari permasalahannya justru pada saat ia memutuskan untuk menyerah dari permasalahnnya tersebut . Tapi, tentu saja bahwa ada banyak kasus dimana penderita merasa bahwa apa yang mereka alami bukanlah permalahan yang bersifat sementara semata , dan seringkali disertai rasa putus asa akan pemecahan masalahnya tergantung dari seberapa parah kompleksitas , dan kemampuan seseoang untuk terbuka dan pasrah terhadap permasalahannya dimana pada penderita tersebut membutuhkan terapi psikoterapi jangka panjang , dan kemungkinan multi terapi .&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;h3 style="background: #f8fcff; line-height: 150%; margin: 12pt 0in 3pt; text-align: justify;"&gt;&lt;a href="http://www.blogger.com/" name="Classical_Liberalism"&gt;&lt;/a&gt;&lt;span class="editsection"&gt;&lt;b style="mso-bidi-font-weight: normal;"&gt;&lt;span lang="EN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%; mso-ansi-language: EN;"&gt;&lt;span style="color: #7e7d10;"&gt;Pandangan Utilitarianisme&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/h3&gt;&lt;div style="background: #f8fcff; line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span class="editsection"&gt;&lt;span lang="EN" style="mso-ansi-language: EN;"&gt;&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;a href="http://www.blogger.com/" name="Utilitarianism"&gt;&lt;/a&gt;Salah satu tokoh pandangan ini yaitu William Goldwin menyatakan bahwa bunuh diri adalah suatu kesalahan , karena mengabaikan kemungkinan kenikmatan yang mungkin bis adiraih dalam hidup . Utilitarisanisme bersandar pada penilaian moral sebagai dasar dari kenikmatan dan cobaan hidup yang dialami dan berpendapat bahwa bunuh diri adalah hal yang yang tidak bermoral &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="EN" style="mso-ansi-language: EN;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;h3 style="background: #f8fcff; line-height: 150%; margin: 12pt 0in 3pt; text-align: justify;"&gt;&lt;a href="http://www.blogger.com/" name="Deontologism"&gt;&lt;/a&gt;&lt;span class="editsection"&gt;&lt;b style="mso-bidi-font-weight: normal;"&gt;&lt;span lang="EN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%; mso-ansi-language: EN;"&gt;&lt;span style="color: #7e7d10;"&gt;Deontologisme&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/h3&gt;&lt;div style="background: #f8fcff; line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN" style="mso-ansi-language: EN;"&gt;Immanuel Kant , yang dianggap sebagai bapak pandangan Deontologisme menyatakan menentang bunuh diri dalam &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;Fundamental Principles of The Metaphysic of Morals&lt;/i&gt;. Dalam&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;pandangannya menyangkut formula kedua dari &lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Categorical_imperative" title="Categorical imperative"&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;categorical imperative&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;, Kant menyatakan :&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="background: #f8fcff; line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN" style="mso-ansi-language: EN;"&gt;&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;"&lt;i&gt;He who contemplates suicide should ask himself whether his action can be consistent with the idea of humanity as an end in itself.&lt;/i&gt;" &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="background: #f8fcff; line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN" style="mso-ansi-language: EN;"&gt;“Dia yang mendukung bunuh diri seharusnya bertanya apakah tindakannya dapat berlangsung konsisten dengan prisip kemanusiaan yang berujung pada dirinya sendiri “ Dalam pandangan ini , Kant menitikberatkan pada &lt;b style="mso-bidi-font-weight: normal;"&gt;tindakan &lt;/b&gt;&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;dan bukan pada &lt;b style="mso-bidi-font-weight: normal;"&gt;hasil maupun konsekuensinya . &lt;/b&gt;&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;Kant berpendapat bahwa tindakan bunuh diri adalah tindakan yang bersifat egois karena bertujuan memuaskan kebutuhan pelaku itu sendiri tanpa memikirkan orang lain .Selanjutnya , Kant Mengatakan bahwa “Suatu tindakan hendaknya tidak berdasarkan pada arti tindakan itu sendiri , namun harus dipikirkan secara universal bahwa &lt;b style="mso-bidi-font-weight: normal;"&gt;semua &lt;/b&gt;&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;tindakan yang dilakukan adalah perwujudan dari pribadi seseorang . Yet a criticism of this rebuke of suicide can be found in Kant's view of sexuality. The reason that sex in marriage is acceptable (and in Kant's eyes, this is the only acceptable place for it) is because there is no other person to use as a means, so it is impossible to take advantage of a non-existent person, and it is not capable to take advantage of oneself. Thus it would seem that suicide to satisfy oneself must be unacceptable to Kant on other grounds than self-satisfaction.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;h3 style="background: #f8fcff; line-height: 150%; margin: 12pt 0in 3pt; text-align: justify;"&gt;&lt;a href="http://www.blogger.com/" name="Existentialism"&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="color: #7e7d10;"&gt;&lt;span class="editsection"&gt;&lt;span lang="EN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%; mso-ansi-language: EN;"&gt;Eksistensialisme&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="EN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 150%; mso-ansi-language: EN;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/h3&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN" style="color: black; font-family: Verdana; font-size: 12pt; mso-ansi-language: EN; mso-bidi-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-bidi-language: AR-SA; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-fareast-language: EN-US;"&gt;Seorang Filsuf dari Prancis yang&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;bernama Camus memandang tujuan dari pandangan Eksistensialisme adalah untuk mempertanyakan apakah bunuh diri diperlukan dalam dunia ini . Baginya , bunuh diri adalah penolakan dari kebebasan hidup .Baginya lagi , melarikan diri dari absurditas kehidupan kedalam ilusi , agama , maupun kematian&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;bukanlah jalan keluar terbaik . Alih-alih menghindar dari ketidakjelasan hidup , bagi Camus lebih baik untuk merayakan hidup ini dengan bergairah dan bersemangat &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/926888330575414899-291117794864698632?l=psikologiindonesia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='related' href='http://www.psikologiindonesia.blogspot.com' title='PERILAKU BUNUH DIRI'/><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://psikologiindonesia.blogspot.com/feeds/291117794864698632/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=926888330575414899&amp;postID=291117794864698632&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/926888330575414899/posts/default/291117794864698632'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/926888330575414899/posts/default/291117794864698632'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://psikologiindonesia.blogspot.com/2011/05/perilaku-bunuh-diri.html' title='PERILAKU BUNUH DIRI'/><author><name>psikologi-indonesia.blogspot.com</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05745403077313996986</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-926888330575414899.post-2497175507765689426</id><published>2011-05-02T16:51:00.003+07:00</published><updated>2011-05-02T16:56:01.321+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Psikologi Klinis'/><title type='text'>SEFT dalam dimensi   TSAR ( Theological Social Acceptance and Releasing )</title><content type='html'>&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0in 0in 0pt; text-align: center;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left" class="MsoBodyText" style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: left;"&gt;Salam Psikologi Klinis dari saya Marbusan.Saudara,berbicara mengenai SEFT memang menarik terutama apabila mendapatkan sumber langsung dan berhubungan dengan Gary Craig , sang pengembang EFT .Banyak artikel yang saya pelajari dan sebagaimana manusia rakus ilmu lainnya , semakin banyak pula pertanyaan yang muncul&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;tentang ilmu tersebut . SEFT menurut penulis adalah suatu bentuk dimensi &lt;i&gt;Theological and Social&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;Acceptance and Releasing ( TSAR) &lt;/i&gt;&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;yang merupakan gabungan antara kepasrahan terhadap Ilahi ,kedekatan social , dan pelepasan beban .Bagaimana lengkapnya? Silahkan membaca uraian berikut ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left" class="MsoBodyText" style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left" class="MsoBodyText" style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: left;"&gt;Saudara, pada judul diatas penulis menyebutkan SEFT dan &lt;i&gt;TSAR&lt;/i&gt; .Dengan tidak bermaksud menunggangi SEFT yang dikembangkan sebelumnya , &lt;i&gt;TSAR &lt;/i&gt;adalah suatu bauran dimensi yang menyertai dalam pelaksanaan SEFT ,sehingga &lt;i&gt;TSAR&lt;/i&gt; bukanlah metode baru. Saudara, &lt;i&gt;TSAR&lt;/i&gt; yang saya sebutkan adalah dimensi &lt;i&gt;Theological and Social&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;Acceptance and Releasing&lt;/i&gt;. &lt;/div&gt;&lt;div align="left" class="MsoBodyText" style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left" class="MsoBodyText" style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: left;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left" class="MsoBodyText" style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: left;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="FI" style="mso-ansi-language: FI;"&gt;I. FAKTOR SOCIAL dalam PELAKSANAAN SEFT&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left" class="MsoBodyText" style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left" class="MsoBodyText" style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: left;"&gt;&lt;span lang="FI" style="mso-ansi-language: FI;"&gt;Sebagaimana diketahui bahwa dalam unsur Psikologi , seperti contohnya dalam Psikotest maka pemahaman terhadap &lt;i&gt;culture&lt;/i&gt; &lt;i&gt;&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;subyek&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;pelaksanaan tindakan Psikologi adalah wajib untuk tetap diperhatikan .&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;Penulis yakin bahwa pengembang SEFT pun juga mengetahui bahwa karakteristik penduduk di Indonesia sangat berbeda dengan kultur di Australia tempat EFT pertama kali dikembangkan . Adalah sangat tepat untuk memasukkan unsur Spiritual&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;mengingat sebagaian besar penduduk bangsa kita adalah masyarakat bertipe relijius . Namun, mungkin anda akan bertanya mengapa saya perlu membahas dimensi &lt;i&gt;social&lt;/i&gt; &lt;i&gt;&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;kali ini ? &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left" class="MsoBodyText" style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left" class="MsoBodyText" style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: left;"&gt;&lt;span lang="FI" style="mso-ansi-language: FI;"&gt;Sepanjang pengamatan penulis dari kacamata Psikologis, penulis menarik kesimpulan bahwa karakteristik kepibadian masyarakat Indonesia adalah masyarakat dengan tingkat kepercayaan diri rendah, suka berkelompok ,tidak suka untuk mengambil keputusan dan cenderung mengikuti pendapat orang yang dianggap “berpengaruh” atau ketua kelompoknya.Bagi anda pembaca yang berasal dari ranah ilmu sosiologi, anda akan setuju bila penulis menyimpulkan bahwa kita adalah tipe masyarakat paguyuban dengan tiga komponen utamanya yaitu &lt;i&gt;knowing each other,exclusive,&lt;/i&gt;dan &lt;i&gt;inter activity.&lt;/i&gt; Dengan pembahasan ini, penulis cenderung melihat kurang berhasilnya terapi SEFT apabila dilakukan oleh pasien itu sendiri .&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left" class="MsoBodyText" style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left" class="MsoBodyText" style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: left;"&gt;&lt;span lang="FI" style="mso-ansi-language: FI;"&gt;&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;Pembahasan selanjutnya mengenai dimensi social akan belanjut dengan melihat pada &lt;i&gt;need of being touched&lt;/i&gt; (Ingat &lt;i&gt;needs of love&lt;/i&gt; dari hirarki Maslow )&lt;i&gt; &lt;/i&gt;pada manusia ,dimana seorang individu memiliki kecenderungan untuk berobat kepada orang lain daripada ia berobat sendiri .Hal yang perlu diiingat bahwa apabila kita berbicara SEFT atau metode penyembuhan apapun, maka kita berbicara tentang orang dengan permasalahan tertentu sehingga pendekatannya seringkali tidak bisa dengan mengajarkan orang tersebut teknik pengobatan , namun juga harus ada pendekatan secara pribadi .&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left" class="MsoBodyText" style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left" class="MsoBodyText" style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: left;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="FI" style="mso-ansi-language: FI;"&gt;II.APLIKASI TERAPI KELOMPOK bagi PENANGANAN KASUS SPESIFIK&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left" class="MsoBodyText" style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left" class="MsoBodyText" style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: left;"&gt;&lt;span lang="FI" style="mso-ansi-language: FI;"&gt;Saudara ,bagi orang yang sakit mendapatkan empati dan mendapatkan perasaan bahwa mereka didengarkan adalah hal utama yang mereka cari .Pengobatan secara fisik memang diperlukan namun bisa jadi tidak menjadi factor utama .Contoh , seorang penderita trauma akibat kekerasan dalam rumah tangga yang tingkat kepercayaan dirinya rendah maka faktor empati, perasaan&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;didengarkan akan lebih bermanfaat bagi dirinya&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left" class="MsoBodyText" style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left" class="MsoBodyText" style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: left;"&gt;&lt;span lang="FI" style="mso-ansi-language: FI;"&gt;Terlebih apabila dia dilakukan terapi&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;kelompok dengan permasalahan yang sejenis .Penulis berkeyakinan dalam kasus-kasus spesifik seperti ini,mengajarkan teknik SEFT untuk dilakukan sendiri tidak akan membawa hasil yang optimal, sebagaimana penelitian pengaruh terapi &lt;i&gt;self hypnosis&lt;/i&gt; untuk menghentikan kebiasaan merokok pada kalangan pria dewasa dini yang pernah dilakukan penulis .Sekali lagi, untuk kasus dengan spsifikasi khusus, gunakanlah metode terapi kelompok terutama kelompok yang bersifat homogen. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left" class="MsoBodyText" style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left" class="MsoBodyText" style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left" class="MsoBodyText" style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: left;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="FI" style="mso-ansi-language: FI;"&gt;III.KESADARAN ILAHIAH&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left" class="MsoBodyText" style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left" class="MsoBodyText" style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: left;"&gt;&lt;span lang="FI" style="mso-ansi-language: FI;"&gt;Penulis sekarang akan mengajak pembaca membahas mengenai Dimensi yang lain dalam konteks TSAR yaitu &lt;i&gt;Theological Acceptance and Releasing.&lt;/i&gt;Saudara,dalam terapi Psikologis entah itu NLP,Yoga ,Hypnotherapy maupun SEFT selalu menekankan pada titik &lt;i&gt;acceptance and releasing &lt;/i&gt;&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;dimana setiap permasalahan yang dirasakan bukanlah dilawan, melainkan untuk diterima (dalam hal ini meningkatkan &lt;i&gt;self consciousness)&lt;b&gt; &lt;/b&gt;&lt;/i&gt;dan kemudian dengan penguasaan diri tersebut maka permasalahan tersebut disingkirkan .&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left" class="MsoBodyText" style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left" class="MsoBodyText" style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: left;"&gt;&lt;span lang="FI" style="mso-ansi-language: FI;"&gt;Saat ini dengan keterbatasan pengetahuan dari penulis , SEFT merupakan salah satu dari sedikit metode penyembuhan dengan menekankan pada proses pengenalan ilahiah dimana subyek diajak untuk bersikap pasrah dan khusyuk serta menerima permasalahan yang ia hadapi untuk kemudian dengan kesadaran &lt;i&gt;Shangrilla &lt;/i&gt;( maaf ,saya menggunakan istilah&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;Anand Krishna ) dan ilahiah tersebut menguasai dan mengeluarkan permasalahan yang ia alami. Pada saat itulah , keadaan seimbang dapat tercapai .&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left" class="MsoBodyText" style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left" class="MsoBodyText" style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: left;"&gt;&lt;span lang="FI" style="mso-ansi-language: FI;"&gt;Mengapa dimensi &lt;i&gt;TSAR&lt;/i&gt; diperlukan dalam terapi ? Saudara, pada saat anda menghadapi masalah ,terkadang masalah anda akan semaki berat apabila ada penyangkalan &lt;i&gt;(denial) &lt;/i&gt;dari sang penderita . Dengan adanya &lt;i&gt;acceptance &lt;/i&gt;&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;secara vertikal kepada Tuhan , maka energy spiritual akan dibangkitkan dan memberikan semangat , fokus untuk tetap sembuh , mengurangi kecemasan , dan memberikan kebahagiaan .Faktor –faktor tersebut itulah yang esensial bagi usaha penyembuhan , dan tidak dapat ditemukan pada orang yang putus asa . &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left" class="MsoBodyText" style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left" class="MsoBodyText" style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: left;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="FI" style="mso-ansi-language: FI;"&gt;IV. PEMBUKTIAN SECARA ILMIAH&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left" class="MsoBodyText" style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left" class="MsoBodyText" style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: left;"&gt;&lt;span lang="FI" style="mso-ansi-language: FI;"&gt;Pada bab terakhir ini penulis kembali mengingatkan bahwa SEFT masih menghadapi tantangan , antara lain untuk bisa menjelaskan secara medis ilmiah cara kerja SEFT tersebut .Ingat bahwa sampai saat ini penjelasan SEFT masih berkutat pada kumparan energi , cakra , dan sebagainya yang (maaf) bagi kalangan akademisi kedokteran masih diragukan keabsahannya .&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left" class="MsoBodyText" style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left" class="MsoBodyText" style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: left;"&gt;&lt;span lang="FI" style="mso-ansi-language: FI;"&gt;Tantangan berikutnya adalah pertanyaan mengenai pencapaian kesembuhan dengan terapi SEFT .Apakah (khususnya bagi subyek dengan permasalahan klinis medis) ,klaim sembuh yang selama ini didengungkan benar-benar telah menyentuh &lt;i&gt;primary cause &lt;/i&gt;&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;dari penyakit tersebut atau semata-mata menghilangkan &lt;i&gt;Symptom &lt;/i&gt;ataupun&lt;i&gt; syndroma nya?&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left" class="MsoBodyText" style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left" class="MsoBodyText" style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: left;"&gt;&lt;span lang="FI" style="mso-ansi-language: FI;"&gt;&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;Apakah metode tersebut didapat murni dari terapi SEFT semata? Sebagai contoh, penulis permah melakukan SEFT pada penderita kanker payudara yang juga menjalani kemoterapi .Pada saat pemeriksaan laboratorium, kadar CEA pasien menurun dengan signifikan ,namun masih menyiskan pertanyaan apakah penurunan kadar CEA tersebut berasal dari terapi SEFT,dari efek kemoterapi , atau ada efek sinergis diantara keduanya?&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left" class="MsoBodyText" style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left" class="MsoBodyText" style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: left;"&gt;&lt;span lang="FI" style="mso-ansi-language: FI;"&gt;Lain halnya apabila dengan keterbatasan penjelasan cara kerjanya , pengembang SEFT dapat melakukan penelitian secara medis pengaruh SEFT (secara murni) pada pasien dengan satu jenis kelainan fisik (misalnya pasien gagal ginjal ) dibandingkan dengan pasien dengan penyakit yang sama dengan pengobatan medis dari dokter dan tanpa SEFT untuk kemudian dilakukan pemeriksaan laboratorium.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left" class="MsoBodyText" style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left" class="MsoBodyText" style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: left;"&gt;&lt;span lang="FI" style="mso-ansi-language: FI;"&gt;Dengan semangat keilmuan ,penulis yang berasal dari pemikir Psikologi yang juga seorang praktisi kesehatan dan laboratorium&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;yang didukung oleh sebuah laboratorium swasta mengajukan tawaran terbuka kepada pengembang SEFT untuk melakukan penelitian ilmiah tersebut . Hal ini adalah langkah akademis yang penting untuk menjawab eksistensi keilmiahan terutama dari bukti empiris SEFT itu sendiri . Penulis sendiri dapat menyediakan tenaga statistikawan handal untuk melakukan uji statistik penelitian tersebut .&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left" class="MsoBodyText" style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left" class="MsoBodyText" style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: left;"&gt;&lt;span lang="FI" style="mso-ansi-language: FI;"&gt;Saudara , demikian catatan penulis kali ini semoga dapat dipetik manfaatnya.Salam psikologi klinis dari saya,Marbusan.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left" class="MsoBodyText" style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left" class="MsoBodyText" style="margin: 0in 0in 0pt; text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0in 0in 0pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0in 0in 0pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/926888330575414899-2497175507765689426?l=psikologiindonesia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='related' href='http://www.psikologiindonesia.blogspot.com' title='SEFT dalam dimensi   TSAR ( Theological Social Acceptance and Releasing )'/><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://psikologiindonesia.blogspot.com/feeds/2497175507765689426/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=926888330575414899&amp;postID=2497175507765689426&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/926888330575414899/posts/default/2497175507765689426'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/926888330575414899/posts/default/2497175507765689426'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://psikologiindonesia.blogspot.com/2011/05/seft-dalam-dimensi-tsar-theological.html' title='SEFT dalam dimensi   TSAR ( Theological Social Acceptance and Releasing )'/><author><name>psikologi-indonesia.blogspot.com</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05745403077313996986</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-926888330575414899.post-5887946155019054265</id><published>2011-05-02T16:50:00.003+07:00</published><updated>2011-05-02T16:56:36.760+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Psikologi Klinis'/><title type='text'>SEFT ( SPIRITUAL EMOTIONAL FREEDOM TECHNIQUE )dan SELF RELAXATION sebagai ANGER MANAGEMENT</title><content type='html'>&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0in 0in 0pt; text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&lt;span style="mso-tab-count: 1;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;Salam Psikologi dari saya , Marbusan ! Saudara , banyak cara ditawarkan dalam dunia Psikologi untuk mengelola amarah . Kebanyakan memang menawarkan pendekatan peningkatan kesadaran (&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;supra consciousness) &lt;/i&gt;&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;dimana seseorang akan dapat menngenali gejala fisik dari amarah dan diharapkan dapat mengatur ritme amarah tersebut . Kembali lagi , bahwa langkah tersebut akan berhasil dengan latihan yang teratur dan akan lebih baik bila ditambahi dengan terapi spiritual , misalnya latihan menarik dan menghela nafas yang dipadukan dengan wirid .Kali ini saya mengajukan suatu pandangan klinis pemanfaatan terapi SEFT sebagai salah satu cara yang bisa digunakan dalam &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;anger management . &lt;/i&gt;Semoga bermanfaat !&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;b style="mso-bidi-font-weight: normal;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;I. FISIOLOGI MARAH .&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&lt;span style="mso-tab-count: 1;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;Saudara , amarah seringkali didefinisikan sebagai energi rangsang stimuli secara emosional dan melibatkan kondisi fisik yang ditujukan sebagai bentuk perlindungan diri dari ancaman atau sifat ketidaknyamanan baik secara nyata maupun tidak . Amarah dikatakan sebagai reaksi emosional yang melibatkan kondisi fisik karena apabila kita amati, amarah akan menyebabkan jantung berdebar-debar,tekanan darah meningkat , pernafasan cepat dan reaksi lain yang seringkali bersifat individual . Mencuplik dari artikel di wikipedia.org yang berjudul &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;anger&lt;/i&gt; , ekspresi&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;marah akan menonjol pada dua hal ekspresi wajah dan bahasa tubuh dimana kedua hal tersebut menunjukkan agresifitas yang ditujukan keluar.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;Otot wajah dan kepala sangat dipengaruhi oleh amarah tersebut .Wajah menjadi tegang , otot alis akan tertarik sehingga kita melihat orang yang marah pandangannya akan tajam bahkan bisa melotot pada obyek kemarahannya .Lebih lanjut lagi karena kita tahu bahwa ada saluran penghubung&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;antara mata dan hidung maka&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;kita bisa melihat cuping hidung kembang kempis dan rahang terkatup rapat&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;Banyak orang yang bertanya mengenai efek dari reaksi fisik tersebut . Secara normal, amarah memang suatu “alarm”terhadap ancaman atau ketidaknyamanan yang dialami oleh seseorang .Secara singkat dijelaskan bahwa perubahan fisik yang menyertai amarah sebagaimana dijelaskan diatas akan meningkatkan kewaspadaan akan serangan , rasa sakit dimana seseorang akan dipacu untuk membangun “benteng pertahanannya “. Secara unik pula dijelaskan bahwa reaksi amarah juga refleksi dari meningkatnya kepercayaan diri dan rasa aman . Tetapi , amarah yang tidak terkontrol tetap merupakan hal yang kurang baik, baik individu itu sendiri maupun lingkungan sekitarnya bahkan dapat berimplikasi pada suatu tindakan hukum .&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="background: #f8fcff; line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;Lebih lanjut dijelaskan oleh Novaco ,Tindakan otonomik secara primer dipicu melalui aktivitas homon adre&lt;span lang="EN" style="mso-ansi-language: EN;"&gt;nomedullary dan &lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;adrenocortical . Sekresi oleh adrenal medu;;a dari catecholamin , epinefrin , dan norepinefrin serta adrenal cortex dari glucorticoid menghasilkan efek sistem simpatetik yang menggerakkan tubuh untuk melakukan tindakan ( mis; pelepasan glukosa yang disimpan didalam hati dan otot sebagai glikogen ) .Pada saat marah , aktivasi katekolamin akan lebih kuat norepinefrin daripada epinefrin ( kebalikannya berlaku pada kasus ketakuan yang sangat ) .Efek adrenocortical, yang lebih lama bertahan dibandingkan efek &lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;adrenomedullary , dimediasi oleh pembentukan kelenjar pituitary, yang juga akan mempengaruhi kadar hormon testosteron .Sistem dari &lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;pituitary-adrenocortical dan pituitary-gonadal diperkirakan juga berpengaruh pada kesiapan atau potensialitas dari respon amarah tersebut. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="background: #f8fcff; line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN" style="mso-ansi-language: EN;"&gt;Pada tinjauan ilmu syaraf , ditunjukkan bahwa emosi dibentuk oleh multi struktur di dalam otak .Proses cepat , minimal, dan evaluatif signifikansi emosional yang berasal dari sensor data , diproses ketika data yang ada melewati amygdala, dalam perjalanan dari organ sensor sepanjang jalur syaraf menuju limbic otak di bagian depan .Tentang bagiamana emosi dilampiaskan tergantung pada kebiasan individu , pola kepribadian, juga adat istiadat yang dianutnya .&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;b style="mso-bidi-font-weight: normal;"&gt;&lt;span lang="EN" style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-ansi-language: EN;"&gt;II.SEFT&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;SEFT merupakan suatu terapi Psikologi yang pertama kali ditujukan untuk melengkapi alat psikoterapi yang sudah ada , seperti contohnya metode desensitisasi atau pengurangan sensitifitas terhadap pemicu Phobia atau ketakutan yang amat sangat yang seringkali diluar rasio terhadup suatu hal . Metode ini banyak memakan waktu bahkan bisa tahunan dan pasien akan merasakan ketakutan yang amat sangat karena diajak langsung berinteraksi dengan subyek ketakutannya .Misalnya , takut bulu maka klien akan diminta memegang bulu . sungguh tidak nyaman dan berat untuk klien yang bersangkutan .Kemudian ada suatu pandangan yang menyatakan&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;bahwa sebetulnya manusia tidak bisa dipisahkan dari segi jasmani dan rohaninya , dimana masing-masing sumber memiliki energi . Sebagai gambaran mudah , bila anda sedang marah , yang notabene adalah energi psikologi , anda akan merasakan gejala fisik misalnya kepala berdenyut-denyut , tensi meningkat , jantung berdebar lebih keras&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;, aliran darah ke wajah semakin banyak atau gejala fisik yang lain . Gambaran berikutnya , bila anda tidak ingin merasakan gejala fisik yang saya sebutkan diatas , anda harus membaskan diri dari energi Psikologi yang negative , dalam hal ini ADALAH LANGKAH ESENSIAL&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;yang ingin dicapai dalam SEFT .&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;b style="mso-bidi-font-weight: normal;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;III.SEFT dalam ANGER MANAGEMENT&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;Pada prinsipnya , saya pribadi berpendapat bahwa ada kemiripan antara SEFT dengan terapi relaksasi lainnya yaitu dengan ditandai munculnya perasaan relaks, pasrah dan peningkatan kesadaran supra .Bagi anda yang baru pertama kali mengenal SEFT , alangkah lebih baiknya mereview kembali tulisan saya yang berjudul SEFT (Spiritual Emotional Freedom Technique ) . &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;Saudara , pemahaman bahwa amarah adalah suatu energi emosional yang berkaitan erat dengan munculnya energi fisik adalah suatu petanda bahwa telah terjadi ketidak seimbangan antara kedua energi tersebut dimana kita bersama telah mengetahui bahwa kunsi SEFT adalah untuk membebaskan energi emosional yang dilakukan dengan teknik spiritual . Sayangnya penjelasan secara ilmiah masih belum terlalu banyak ada, terutama di &lt;place w:st="on"&gt;&lt;country-region w:st="on"&gt;Indonesia&lt;/country-region&gt;&lt;/place&gt; yang notabene masyarakatnya kurang menyukai penelitian ilmiah . Penjelasan secara ilmiah mengenai cara kerja terapi ini masih berputar-putar pada penjelasan mengenai cakra , meridian dan isitilah-istilah lain yang berbau “ke-India-Indiaan” Tidak heran bahwa sampai sekarang , penulis masih banyak menemukan dokter yang tidak yakin dengan metode yang dijelaskan . &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;Dalam perannya sebagai anger management , SEFT diyakini bekerja dengan tiga cara , yaitu adanya peningkatan kesadaran Supra yang didapat dari praktek set up, self relaksasi dari praktek afirmasi&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;dan melalui jalur fisik dengan cara membebaskan cakra dan median subyek sehingga energi positif akan kembali didapat Sebagai gambaran mudahnya adalah apabila amarah adalah api, maka salah satu cara memadamkan api tersebut dengan menggunakan air&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;.SEFT disini diibaratkan sebagai air karena ia bertugas membebaskan diri dari kungkungan energy negative dan menggantikannya dengan energy positif yang membawa kesegaran.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;Secara pribadi , saya mengatakan pula bahwa tidak ada satu teknik yang benar-benar lepas dari teknik lainya&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;maka hal yang sama juga berlaku pada SEFT dimana ada keterkaitan antara &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;self relaxation therapy ,SEFT itu sendiri dan Supra consciousness&lt;/i&gt; .Secara garis besar saya mengatakan bahwa pada tulisan diatas kita belajar bahwa amarah menciptakan ketidakseimbangan energy yang berimplikasi kepada munculnya&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;energy fisik . Saudara , kembali saya mengatakan bahwa kunci SEFT hanya ada 3 yaitu KIP&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;( Khusyuk, Ikhlas , dan Pasrah )&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0in 0in 0pt 0.25in; text-align: center;"&gt;&lt;b style="mso-bidi-font-weight: normal;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;SEFT + SELF RELAXATION untuk ANGER MANAGEMENT&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0in 0in 0pt 0.25in; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0in 0in 0pt 0.25in; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&lt;span style="mso-tab-count: 1;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;Seperti yang saya tulis dibagian awal , bahwa SEFT&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;adalah pengembangan dari EFT ( atau Emotional Freedom Technique ) dimana factor “S”adalah factor Spiritual . Hal ini sangat penting karena seringkali factor ini sangat berperan tatkala terapi EFT konvensional kurang maksimal memberikan hasil . Faktor Spiritual sangat penting karena merupakan hal esensial dan hubungan vertical “paling tulus” antara hamba dan penciptnya . Tidak ada perbedaan agama dalam pemberian terapi SEFT . Apapun kepercayaan atau agama anda , bisa menerima terapi ini .Kunci dari terapi ini adalah KIP ( Khusyuk, Ikhlas dan Pasrah ) . Beberapa yang menyebabkan terapi gagal antara lain :&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;ul style="margin-top: 0in;" type="disc"&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0in 0in 0pt; mso-list: l1 level1 lfo1; tab-stops: list .5in; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;Peserta kurang minum (dehidrasi )&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0in 0in 0pt; mso-list: l1 level1 lfo1; tab-stops: list .5in; text-align: justify;"&gt;&lt;place w:st="on"&gt;&lt;city w:st="on"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;Ada&lt;/span&gt;&lt;/city&gt;&lt;/place&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt; benda elektronik yang ada disekitar peserta yang “mengacaukan” terapi .Misalnya HP, Jam Tangan .&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0in 0in 0pt; mso-list: l1 level1 lfo1; tab-stops: list .5in; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;Peserta kurang bisa Khusyuk , Ikhlas dan Pasrah&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0in 0in 0pt; mso-list: l1 level1 lfo1; tab-stops: list .5in; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;Lingkungan yang berisik , tidak tenang dsb .&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;b style="mso-bidi-font-weight: normal;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;LANGKAH TERAPI &lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;( MODIFIKASI DARI PENULIS )&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;ul style="margin-top: 0in;" type="disc"&gt;&lt;ol style="margin-top: 0in;" type="1"&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0in 0in 0pt; mso-list: l1 level2 lfo1; tab-stops: list 1.0in; text-align: justify;"&gt;&lt;b style="mso-bidi-font-weight: normal;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;SELF RELAXATION :&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;/ul&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0in 0in 0pt 0.5in; mso-list: l2 level2 lfo3; tab-stops: list .5in; text-align: justify; text-indent: -0.25in;"&gt;&lt;span style="font-family: Wingdings; mso-bidi-font-family: Wingdings; mso-fareast-font-family: Wingdings;"&gt;&lt;span style="mso-list: Ignore;"&gt;&lt;img alt="*" height="13" src="file:///C:/DOCUME~1/MARKET~1/LOCALS~1/Temp/msohtml1/01/clip_image002.gif" width="4" /&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;Tahap Penerimaan : lemaskan tubuh anda , jangan menghiraukan apapun yang ada di sekitar anda .Terima saja , jangan dilawan .Bila anda marah , sadarlah bahwa anda marah ,dan dengan kesadaran anda , anda akan menerima &lt;b style="mso-bidi-font-weight: normal;"&gt;penyebab&lt;/b&gt; kemarahan anda&lt;b style="mso-bidi-font-weight: normal;"&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0in 0in 0pt 0.5in; mso-list: l2 level2 lfo3; tab-stops: list .5in; text-align: justify; text-indent: -0.25in;"&gt;&lt;span style="font-family: Wingdings; mso-bidi-font-family: Wingdings; mso-fareast-font-family: Wingdings;"&gt;&lt;span style="mso-list: Ignore;"&gt;&lt;img alt="*" height="13" src="file:///C:/DOCUME~1/MARKET~1/LOCALS~1/Temp/msohtml1/01/clip_image002.gif" width="4" /&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;Tahap rileksasi : Anda pernah tidur ayam ? Betapa nyaman dan damai bukan? Sekarang mari kitaberaltih mencapai keadaan tersebut .Bagi yang belum terbiasa , jangan menyalahkan diri anda bila anda jatuh tertidur,semuanya memang perlu latihan. Buatlah rileks anda sendiri dengan membayangkan tempat favorit anda yang tenang , bisa Gunung atau pantai , secara perlahan-lahan tarik nafas , tahan beberapa detik lalu hembuskan keluar .Nikmatilah dan temukan suasana rileks didalam diri anda&lt;b style="mso-bidi-font-weight: normal;"&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;ul style="margin-top: 0in;" type="disc"&gt;&lt;ol start="2" style="margin-top: 0in;" type="1"&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0in 0in 0pt; mso-list: l1 level2 lfo1; tab-stops: list 1.0in; text-align: justify;"&gt;&lt;b style="mso-bidi-font-weight: normal;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;SET UP&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;/ul&gt;&lt;ul style="margin-top: 0in;" type="disc"&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0in 0in 0pt; mso-list: l0 level1 lfo2; tab-stops: list .5in; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;Berikan nilai atas masalah anda&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;. Pada skala 0-10 , berikan skala nilai masalah anda .0 untuk paling ringan dan 10 paling berat . Misalnya , saat ini saya marah kepada istri &lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;, skornya 6 . &lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0in 0in 0pt; mso-list: l0 level1 lfo2; tab-stops: list .5in; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;Langkah di set up ini adalah anda memegang dada sebelah kiri di bawah tulang clavicula atau dibawah tulang bahu&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;dimana ada rasa nyeri bila ditekan .Ini disebut sebagai titik nyeri&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;. Usapkan perlahan sambil mengucapkan afirmasi berikut ini :&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;“ Ya Tuhan ( sebutkan sesuai dengan agama /kepercayaan anda ) , Meskipun…………( masalah anda)&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;, saya ikhlas dan saya pasrah .&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;Contoh : Ya Allah , meskipun saya sekarang marah kepada istri saya, saya ikhlas dan saya pasrah .&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;Ulangi 3 kali kalimat diatas sambil terus mengusap titik nyeri anda .&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;ul style="margin-top: 0in;" type="disc"&gt;&lt;ol start="3" style="margin-top: 0in;" type="1"&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0in 0in 0pt; mso-list: l1 level2 lfo1; tab-stops: list 1.0in; text-align: justify;"&gt;&lt;b style="mso-bidi-font-weight: normal;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;AFIRMASI&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;/ul&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;b style="mso-bidi-font-weight: normal;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;Sekarang , lepaskan tangan anda dari titik nyeri .Diam , dan ulangilah kalimat afirmasi seperti langkah 1 minimal 3 kali. Khusyuk dan Ikhlaslah .&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;ul style="margin-top: 0in;" type="disc"&gt;&lt;ol start="4" style="margin-top: 0in;" type="1"&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0in 0in 0pt; mso-list: l1 level2 lfo1; tab-stops: list 1.0in; text-align: justify;"&gt;&lt;b style="mso-bidi-font-weight: normal;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;KETUKAN&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;/ul&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;Ketuklah dengan ringan menggunakan 2 jari ( jari telunjuk dan jari tengah ) titik-titik berikut ini :&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0in 0in 0pt 0.5in; mso-list: l1 level3 lfo1; tab-stops: list .5in; text-align: justify; text-indent: -0.5in;"&gt;&lt;span style="font-family: Symbol; mso-bidi-font-family: Symbol; mso-fareast-font-family: Symbol;"&gt;&lt;span style="mso-list: Ignore;"&gt;·&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;Ubun-ubun &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0in 0in 0pt 0.5in; mso-list: l1 level3 lfo1; tab-stops: list .5in; text-align: justify; text-indent: -0.5in;"&gt;&lt;span style="font-family: Symbol; mso-bidi-font-family: Symbol; mso-fareast-font-family: Symbol;"&gt;&lt;span style="mso-list: Ignore;"&gt;·&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;Pangkal Alis .Permulaan alis , diatas dan pada sisi hidung .&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0in 0in 0pt 0.5in; mso-list: l1 level3 lfo1; tab-stops: list .5in; text-align: justify; text-indent: -0.5in;"&gt;&lt;span style="font-family: Symbol; mso-bidi-font-family: Symbol; mso-fareast-font-family: Symbol;"&gt;&lt;span style="mso-list: Ignore;"&gt;·&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;Sisi Mata .Pada sisi tulang mata sebelah luar &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0in 0in 0pt 0.5in; mso-list: l1 level3 lfo1; tab-stops: list .5in; text-align: justify; text-indent: -0.5in;"&gt;&lt;span style="font-family: Symbol; mso-bidi-font-family: Symbol; mso-fareast-font-family: Symbol;"&gt;&lt;span style="mso-list: Ignore;"&gt;·&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;Bawah mata . Pada tulang mata sebelah bawah , kurang lebih 1 cm dibawah pupil &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0in 0in 0pt 0.5in; mso-list: l1 level3 lfo1; tab-stops: list .5in; text-align: justify; text-indent: -0.5in;"&gt;&lt;span style="font-family: Symbol; mso-bidi-font-family: Symbol; mso-fareast-font-family: Symbol;"&gt;&lt;span style="mso-list: Ignore;"&gt;·&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;Dibawah Hidung .Pada atas bibir dan hidung.( Pada lokasi kumis pada pria)&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0in 0in 0pt 0.5in; mso-list: l1 level3 lfo1; tab-stops: list .5in; text-align: justify; text-indent: -0.5in;"&gt;&lt;span style="font-family: Symbol; mso-bidi-font-family: Symbol; mso-fareast-font-family: Symbol;"&gt;&lt;span style="mso-list: Ignore;"&gt;·&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;Pada Dagu&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0in 0in 0pt 0.5in; mso-list: l1 level3 lfo1; tab-stops: list .5in; text-align: justify; text-indent: -0.5in;"&gt;&lt;span style="font-family: Symbol; mso-bidi-font-family: Symbol; mso-fareast-font-family: Symbol;"&gt;&lt;span style="mso-list: Ignore;"&gt;·&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;Ikatan dasi . Pada tulang bahu , terdapat “benjolan “ pertemuan dengan tulang dada yang pertama &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0in 0in 0pt 0.5in; mso-list: l1 level3 lfo1; tab-stops: list .5in; text-align: justify; text-indent: -0.5in;"&gt;&lt;span style="font-family: Symbol; mso-bidi-font-family: Symbol; mso-fareast-font-family: Symbol;"&gt;&lt;span style="mso-list: Ignore;"&gt;·&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;Bawah ketiak , segaris lurus dengan putting (pada pria ) atau pertengahan bra pada wanita .&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0in 0in 0pt 0.5in; mso-list: l1 level3 lfo1; tab-stops: list .5in; text-align: justify; text-indent: -0.5in;"&gt;&lt;span style="font-family: Symbol; mso-bidi-font-family: Symbol; mso-fareast-font-family: Symbol;"&gt;&lt;span style="mso-list: Ignore;"&gt;·&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;Bawah Putting . 1 cm dibawah puting ( pada pria .)&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0in 0in 0pt 0.5in; mso-list: l1 level3 lfo1; tab-stops: list .5in; text-align: justify; text-indent: -0.5in;"&gt;&lt;span style="font-family: Symbol; mso-bidi-font-family: Symbol; mso-fareast-font-family: Symbol;"&gt;&lt;span style="mso-list: Ignore;"&gt;·&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;Pada sisi dalam (pangkal kuku bagian dalam ) jari jempol&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0in 0in 0pt 0.5in; mso-list: l1 level3 lfo1; tab-stops: list .5in; text-align: justify; text-indent: -0.5in;"&gt;&lt;span style="font-family: Symbol; mso-bidi-font-family: Symbol; mso-fareast-font-family: Symbol;"&gt;&lt;span style="mso-list: Ignore;"&gt;·&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;Pada sisi dalam (pangkal kuku bagian dalam ) jari telunjuk&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0in 0in 0pt 0.5in; mso-list: l1 level3 lfo1; tab-stops: list .5in; text-align: justify; text-indent: -0.5in;"&gt;&lt;span style="font-family: Symbol; mso-bidi-font-family: Symbol; mso-fareast-font-family: Symbol;"&gt;&lt;span style="mso-list: Ignore;"&gt;·&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;Pada sisi dalam (pangkal kuku bagian dalam ) jari tengah&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0in 0in 0pt 0.5in; mso-list: l1 level3 lfo1; tab-stops: list .5in; text-align: justify; text-indent: -0.5in;"&gt;&lt;span style="font-family: Symbol; mso-bidi-font-family: Symbol; mso-fareast-font-family: Symbol;"&gt;&lt;span style="mso-list: Ignore;"&gt;·&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;Pada sisi dalam (pangkal kuku bagian dalam ) jari manis&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0in 0in 0pt 0.5in; mso-list: l1 level3 lfo1; tab-stops: list .5in; text-align: justify; text-indent: -0.5in;"&gt;&lt;span style="font-family: Symbol; mso-bidi-font-family: Symbol; mso-fareast-font-family: Symbol;"&gt;&lt;span style="mso-list: Ignore;"&gt;·&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;Pada sisi dalam (pangkal kuku bagian dalam ) jari kelingking&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0in 0in 0pt 0.5in; mso-list: l1 level3 lfo1; tab-stops: list .5in; text-align: justify; text-indent: -0.5in;"&gt;&lt;span style="font-family: Symbol; mso-bidi-font-family: Symbol; mso-fareast-font-family: Symbol;"&gt;&lt;span style="mso-list: Ignore;"&gt;·&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;Pada Gamut Point : Punggung tangan&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;, dibawah buku-buku tangan jari manis&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0in 0in 0pt 0.5in; mso-list: l1 level3 lfo1; tab-stops: list .5in; text-align: justify; text-indent: -0.5in;"&gt;&lt;span style="font-family: Symbol; mso-bidi-font-family: Symbol; mso-fareast-font-family: Symbol;"&gt;&lt;span style="mso-list: Ignore;"&gt;·&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;Karate Chop : Pada titik karate .bayangkan titik yang anda gunakan pada saat anda melakukan gerakan “membacok”dengan tangan .&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;Jangan lupa , untuk menarik nafas setiap kali anda selesai melakukan satu kali putaran dengan kalimat syukur , misalnya “Alhamdulillah “. Ulangi beberapa kali kurang lebih 15-20 menit dalam satu kali sesui terapi . &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;Demikian sepintas tentang SEFT dan self relaxation therapy. Penulis menyadari adanya keterbatasan penjelasan secara ilmiah mengenai metode kerja dari SEFT secara klinis . Namun , berangkat dari ungkapan kelirumologi yang mengatakan &lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;: “You don’t believe it untill you’ve tried “ .Bagi para praktisi kesehatan yang tertarik mungkin dapat mencoba metode ini yang sangat aman penggunaannya dan (hampir tak dapat dipercaya)kemudahan penggunaannya&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;.Semoga dengan pengenalan SEFT dari penulis, ada beberapa orang yang kemudian tertarik membuat penelitian ilmiah sehingga kinerja terapi dengan metode sejenis , misalnya akupuntur maupun bekam dapt lebih dapat diterima.&lt;span style="mso-spacerun: yes;"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;Apabila ada yang berminat mendapatkan buku panduannya (dalam bahasa Inggris) , dapat menghubungi penulis melalui berbagi.net (Gratis) . Memang agak sulit untuk mempraktekkannya hanya melalui tulisan , namun penulis berharap untuk memperkenalkan terapi ini .Bila ada kesempatan , mungkin bisa dipraktekan secara langsung . Salam Psikologi Klinis dari saya , Marbusan !&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/926888330575414899-5887946155019054265?l=psikologiindonesia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='related' href='http://www.psikologiindonesia.blogspot.com' title='SEFT ( SPIRITUAL EMOTIONAL FREEDOM TECHNIQUE )dan SELF RELAXATION sebagai ANGER MANAGEMENT'/><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://psikologiindonesia.blogspot.com/feeds/5887946155019054265/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=926888330575414899&amp;postID=5887946155019054265&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/926888330575414899/posts/default/5887946155019054265'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/926888330575414899/posts/default/5887946155019054265'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://psikologiindonesia.blogspot.com/2011/05/seft-spiritual-emotional-freedom.html' title='SEFT ( SPIRITUAL EMOTIONAL FREEDOM TECHNIQUE )dan SELF RELAXATION sebagai ANGER MANAGEMENT'/><author><name>psikologi-indonesia.blogspot.com</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05745403077313996986</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-926888330575414899.post-6677584861277736608</id><published>2011-04-28T08:16:00.000+07:00</published><updated>2011-04-28T08:16:09.102+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Psikologi Klinis'/><title type='text'>Aspek Klinis dari Kelainan Kepribadian Narsisistik (KKN )</title><content type='html'>Banyak kita dengar silang pendapat mengenai  apakah sifat narsistik pada  masa bayi, masa kanak-kanak, dan remaja awal adalah gejala pato-psikologis atau bukan Namun bukti yang ada menunjukkan bahwa pelecehan dan trauma pada masa masa kanak-kanak yang ditimbulkan oleh orang tua, figur otoritas, atau bahkan rekan sebaya dapat memicu terjadinya  "narsisisme sekunder" dan, bila tidak terselesaikan, mungkin mengarah pada Kelainan Kepribadian Narsisistik (KKN) di kemudian hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal ini mejadi bukti tak terbantahkan bahwa narsisisme adalah mekanisme pertahanan yang berperan untuk “membentengi ego” dari perasaan terluka dan juga  trauma yang berasal dari “True Self “  sang korban kedalam “False Self “  yang menggambarkan dirinya sebagai yang mahakuasa, kebal, dan maha tahu. “Self” palsu inilah yang kemudian digunakan oleh seorang narsisis untuk mengumpulkan “suplai narsistik” dari lingkungannya .”Suplai narsisistik” dapat berupa  setiap bentuk perhatian, baik positif maupun negatif dan merupakan hal yang sangat instrumental  dalam penilaian akan rasa harga diri yang sangat labil dari sang narsisis&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin sifat yang terlihat paling jelas pada pasien dengan Kelainan Kepribadian Narsisistik (KKN) adalah kerentanan mereka terhadap kritik dan perbedaan pendapat. Input negatif,baik  nyata atau bahkan dibayangkan, bahkan untuk menegur ringan, saran konstruktif, atau menawarkan untuk membantu dapat membuat mereka merasa terluka, terhina,dan dapat membuat mereka bereaksi dengan balas menghina (devaluasi), marah, atau jenis agresifitas yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam sebuah buku yang berjudul  "Malignant Self Love - Narcissism Revisited" dikatakan bahwa cara untuk menghindari “rasa sakit tak tertahankan” sebagaimana dijelaskan diatas , maka  beberapa pasien dengan Kelainan Kepribadian Narsisistik (KKN) biasanya akan menarik diri secara sosial berpura-pura hidup dalam “kebersahajaan dan kerendahan hati palsu” untuk menutupi kecintaan mereka yang terlalu besar kepada diri sendiri sehingga kemudian memunculkan perasaan dikotomi “besar” dan orang lain adalah “Kecil”. Gangguan Dystimia ( gangguan mood perasaan kronis yang jatuh kedalam spectrum depresi ,seringkali dianggap sebagai depresi kronis , namun seringkali pula akibat yang ditimbulkan tidak separah kelaian dpresif mayor .Gejala yang timbul seringkali berupa rasa sakit yang tak jelas dan tak tak tergambarkan dengan kata dalam jangka waktu yang lama )  dan. Gangguan depresi adalah reaksi umum untuk menutupi usaha mereka untuk isolasi diri sebagai akibat  perasaan malu dan tidak mampu. Tak heran kemudian banyak ahli mengatakan bahwa Kelainan Kepribadian Narsisistik (KKN) sebagai “Kanker Kepribadian “.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berkaitan dengan  kurangnya empati, suka mengabaikan bagi orang lain, kecenderungan “mudah meledak”, rasa memiliki yang sangat besar serta kebutuhan konstan untuk mendapatkan perhatian sebagai pasokan narsistik, sang penderita narsisme jarang mampu mempertahankan hubungan interpersonal yang bersifat fungsional dan sehat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak narsisis pekerja keras dan ambisius. Beberapa dari mereka bahkan berbakat dan terampil. Tapi mereka tidak mampu bekerja tim karena mereka tidak bisa mentolerir kegagalan atau kesalahan. Mereka mudah frustrasi dan patah semangat serta tidak mampu mengatasi ketidaksetujuan dan kritik dari pihak lain. Meskipun beberapa narsisis memiliki karir yang meroket dan inspiratif, namun dalam kurun waktu yang panjang, mereka akan sulit untuk mempertahankan prestasi profesional jangka panjang serta tak mampu untuk menghormati atau  memberikan apresiasi kepada rekan-rekan mereka. Rasa “kebesaran” yang  fantastis dari sang narsisis, sering ditambah dengan suasana hati hypomanic ,(dalam Wikipedia dijelaskan bahwa Hypomania adalah suasana hati yang digambarkan oleh suasana hati yang “terus menerus meluap-luap” gembira ataupun suasana hati yang cepat marah ,dan tercermin dalam pikiran dan perilaku yang ditampakkan sebagaimana kondisi suasana hati pada saat itu .Orang yang mengidap kondisi hypomanic biasanya kebutuhan akan tidurnya lebih sedikit dibandingkan orang lain , ingin terus menerus beraktivitas , dan punya energi yang seolah-olah tak akan pernah habis ). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Narsisisme sendiri dibagi dalam banyak jenis , seperti narsisisme paranoid, narsisisme depresif,narsisisme phallic, dan sebagainya. Pada dasarnya , Narsisisme dapat dibedakan dalam dua perbedaan yaitu Narsisisme yang beradasarkan pada performa kecerdasan ,seperti halnya prestasi akademik  dan Narsisisme yang berdasarkan pada performa fisik merea, seperti halnya ketampanan, kecantikan , ketahanann fisik atau kepopuleran diantara lawan jenisnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Another crucial division within the ranks of patients with Narcissistic Personality Disorder (NPD) is between the classic variety (those who meet five of the nine diagnostic criteria included in the DSM), and the compensatory kind (their narcissism compensates for deep-set feelings of inferiority and lack of self-worth).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Some narcissists are covert, or inverted narcissists. As codependents, they derive their narcissistic supply from their relationships with classic narcissists.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembagian penting lainnya klasifikasi pasien dengan Kelainan Kepribadian Narsisistik (KKN)  adalah antara penderita jenis  klasik (orang-orang yang memenuhi lima dari sembilan kriteria diagnostik dalam DSM), dan jenis kompensasi (narsisme mereka mengkompensasi/merupakan pelampiasan dari  perasaan mendalam akan sifat rendah diri dan atau bahkan perasaan tidak berharga di depan orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PERAWATAN DAN PROGNOSIS Kelainan Kepribadian Narsisistik (KKN)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Talk therapy (mainly psychodynamic psychotherapy or cognitive-behavioural treatment modalities) is the common treatment for patients with Narcissistic Personality Disorder (NPD). The therapy goals cluster around the need to modify the narcissist's antisocial, interpersonally exploitative, and dysfunctional behaviors. Such re-socialization (behavior modification) is often successful. Medication is prescribed to control and ameliorate attendant conditions such as mood disorders or obsessive-compulsive disorders.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The prognosis for an adult suffering from the Narcissistic Personality Disorder (NPD) is poor, though his adaptation to life and to others can improve with treatment.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terapi wicara (terutama psikoterapi psikodinamik atau modalitas terapi kognitif-perilaku) adalah pengobatan yang umum untuk pengidap Narcissistic Personality Disorder (NPD). Terapi kelompok bertujuan untuk memodifikasi perilaku sang narsisis yang antisosial, mudah meladak,serta kepribadian yang disfungsional. sosialisasi-ulang seperti halnay pada terapi modifikasi perilaku sering berhasil. Obat dapat  diresepkan untuk mengontrol dan memperbaiki kondisi seperti gangguan mood atau gangguan obsesif-kompulsif. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Prognosis untuk penderita  dewasa dari Kelainan Kepribadian Narsisistik (KKN adalah jelek, meskipun adaptasi untuk hidup dan untuk orang lain dapat diperbaiki dengan pengobatan.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/926888330575414899-6677584861277736608?l=psikologiindonesia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://psikologiindonesia.blogspot.com/feeds/6677584861277736608/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=926888330575414899&amp;postID=6677584861277736608&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/926888330575414899/posts/default/6677584861277736608'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/926888330575414899/posts/default/6677584861277736608'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://psikologiindonesia.blogspot.com/2011/01/aspek-klinis-dari-kelainan-kepribadian.html' title='Aspek Klinis dari Kelainan Kepribadian Narsisistik (KKN )'/><author><name>psikologi-indonesia.blogspot.com</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05745403077313996986</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-926888330575414899.post-2058254013444110828</id><published>2008-11-22T06:51:00.004+07:00</published><updated>2011-04-28T09:48:09.578+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Psikologi Klinis'/><title type='text'>HAK JAWAB SEFT terhadap ARTIKEL TINJAUAN SEFT VS STEREOTIPE NORMA TUNTUTAN PERAN</title><content type='html'>Salam Psikologi Klinis dari saya Marbusan .Saudara , kali ini saya akan menampilkan tanggapan dari seorang SEFTer tentang artikel saya yang berjudul Tinjauan Kasus SEFT VS Stereotipe Norma Tuntutan Peran .Penulis sengaja menampilkan tanggapan tersebut sebagai hak jawab dari pihak SEFT terhadap tulisan saya .Saya tidak akan memberi tanggapan langsung pada saat ini untuk menjaga obyektifitas .Insya Allah saya akan kembali menulis pada artikel berikutnya .Semoga bermanfaat!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Salam SEFTer,&lt;br /&gt;Perkenalkan Saya Endy, Lengkapnya Endy Fatah Joesoef. Ingin melengkapi Informasi mengenai SEFT (Spiritual Emotional Freedom Technique) maka kami berikan penjelasan sebagai berikut : Pertama menganai mengapa teknik ini dikembangkan oleh Ahmad Faiz Zainuddin di Indonesia sejak tahun 2005 ? Salah satu alasan mendasarnya adalah adanya sebuah keinginan yang mendasar untuk menemukan suatu teknologi di bidang Psikologi yang dapat menjadi solusi untuk banyak orang. Akhinya di kembangkanlah teknik ini menjadi SEFT - Spiritual Emotional Freedom Technique. Tidak hanya itu, untuk memastikannya (Insyaalloh) dibuatlah lembaga PT. LoGOS Institute dengan pendekatan 'Social Entrepreneur' - Selengkapnya bisa kunjungi website-nya di http://WWW.LoGOS-Institute.com/ selanjutnya SEFT efektif karena didalamnya secara eklektik mengandung 14 macam teknik psychoterapi tingkat lanjut. Keempat belas macam teknik tersebut adalah : 1. NLP (Neuro Linguistic programming) - yakni ketika kita melakukan setup, tun in dan tapping. 2. Behavioral therapy - Desensitization. 3. Psychoanalisa - Finding the historical roots of the symptom, to be aware of the unawareness, chatarsis. 4. Logotheraphy 5. EMDR 6. Sedona Method 7. ericksonian Hypnosis 8. Sugesty &amp;amp; Affirmation 9. visualization, 10. Provocative therapy 11. Trancendental Relaxation &amp;amp; Meditation 12. Gestalt therapy 13. Energy therapy 14. Powerful prayer (faith, concentration, acceptance, surrender, grateful). yang keempat belas teknik ini bertemu secara sinergis di sebuah teknik pemberdayaan diri yang di beri nama SEFT (Spiritual Emotional Freedom Technique)- info ini selengkapnya dapat di baca di http://logosseft.blogspot.com/ Paradigma pendekatan SEFT mengacu pada pendahulunya di Energy Psychology bahwa penyebab segala macam emosi negatif adalah terganggunya sistem energy tubuh (&lt;br /&gt;Gary Craig, 1984). Disisi lai dipahami bahwa sel-sel tubuh kita digerakkan oleh energi. Sel ini dapat di pelajari dengan pendekatan 'materi' atau 'energi'. Dalam tradisi pengobatan klasik/kuno, proses penyembuhan dilakkan dengan pendekatan energi (Albert Szent Gyorgy - Penerima Nobel Bidang Kedokteran). So, ditangan Ahmad Faiz Zainuddi (1995) teknik ini tidak hanya digunakan untuk healing (penyembuhan) namun berkembang pada spektrum 3 domain kehidupan yang lain yakni : Succes (bagaimana kita meraih apa yang kita inginkan), happiness (bagaimana kita benar-benar menginginkan mengenai apa yang sudah kita raih),dan everyday greatness (bagaimana kita menjadi pribadi yang mulia dimanapun kita berada setiap hari). So SEFT dalam formula 2 hari training akan membekali peserta di 4 domain tersebut yakni : healing + success + happiness + greatness. Pertanyaannya adalah setelah menguasai teknik ini apa benefitnya ? Tentu kegiatan atau aktivitas setelah selesai dari training ini yang akan menentukan sejauh mana SEFT dapat bermanfaat untuk diri sendiri dan orang lain. Sebab kami meyakini bahwa 'knowing is nothing ...' tahu saja tidak cuku atau tak ada gunanya ... maka di akhirpelatihan SEFT Total Solution Training diberikan materi secara inspirational mengenai : The Porpose of life human kind ... tentu ini bahasan spiritualitas yang universal sifatnya. Nah, semoga dengan sedikit penjelasan ini menjadi lebih menarik bahasan SEFT ini ... Insyaalloh, kita berharap, SEFT memberikan manfaat dan kebanggaan Bangsa kita tapi bisa menjadi salah satu nikmat alloh SWT yang di nikmati banyak orang di seluruh dunia. Bagi yang berminat mengikuti trainingnya akan di gelar terakhir di tahun 2008 di dua tempat. Pertama, Surabaya, Sabtu - Minggu, 22-23 Nopember 2008 di Hotel Mojopahit (Registrasi : Nurul. Jl. Barata Jaya XXIX no. 25 t. 031-5010055) dan JAKARTA, Sabtu-Minggu, 20-21 Desember 2008 (Registrasi : Vina : 021-86605151 ext 0. Jl. Jatiwaringin 24 kavling K Jakarta Timur). Preview dan coba SEFT Gratis kami selenggarakan setiap Minggu di dua tempat tersebut diatas (waktu dan jadual silahkan kunjungi www.LoGOS.co.id). Semoga Informasi ini bermanfaat.&lt;br /&gt;Salam LoGOS,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SEFTer Endy,&lt;br /&gt;0818991915&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/926888330575414899-2058254013444110828?l=psikologiindonesia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://psikologiindonesia.blogspot.com/feeds/2058254013444110828/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=926888330575414899&amp;postID=2058254013444110828&amp;isPopup=true' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/926888330575414899/posts/default/2058254013444110828'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/926888330575414899/posts/default/2058254013444110828'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://psikologiindonesia.blogspot.com/2008/11/hak-jawab-seft-terhadap-artikel.html' title='HAK JAWAB SEFT terhadap ARTIKEL TINJAUAN SEFT VS STEREOTIPE NORMA TUNTUTAN PERAN'/><author><name>psikologi-indonesia.blogspot.com</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05745403077313996986</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-926888330575414899.post-3641582235454356396</id><published>2008-05-28T13:27:00.001+07:00</published><updated>2011-04-28T09:50:07.788+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Psikologi Klinis'/><title type='text'>Anxiety Disorder (Bagian I )</title><content type='html'>Anxiety Disorders /Gangguan Cemas adalah gangguan yang paling umum, atau sering terjadi berupa gangguan mental, dimana dalam hal ini meliputi suatu kelompok kondisi-kondisi yang terbagi antara gangguan cemas yang ekstrim atau patologis sebagai gangguan yang mengenai suasana hati atau tekanan emosional. Kecemasan, yang dipahami sebagai lawan dari ketakutan normal, adalah jelmaan oleh gangguan suasana hati, seperti halnya berpikir, perilaku, dan aktivitas fisiologis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jenis Gangguan Cemas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gangguan Cemas dapat meliputi :&lt;br /&gt;1. Serangan panik ( dengan dan tanpa sejarah terjadinya agoraphobia / takut pada ruang terbuka),&lt;br /&gt;2. Agoraphobia / takut pada ruang terbuka ( dengan dan tanpa suatu sejarah gangguan panik),&lt;br /&gt;3. Gangguan Cemas secara umum , &lt;br /&gt;4. Phobia secara spesifik, &lt;br /&gt;5. Phobia sosial,&lt;br /&gt;6. Gangguan obsessive-compulsive , &lt;br /&gt;7. Gangguan stress yang bersifat akut, dan &lt;br /&gt;8. Gangguan Emosi Pasca Trauma (PTSD) ( DSM-IV). &lt;br /&gt;Sebagai tambahan, ada gangguan penyesuaian dengan berbagai bentukan cemas, gangguan Cemas dalam kaitan dengan kondisi-kondisi medis umum, Gangguan Cemas karena Induksi Zat , dan kategori gangguan cemas yang tidak spesifik ( DSM-IV).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gangguan cemas tentu saja tidak hanya terjadi di Amerika saja, namun dapat dijumpai dalam berbagai kultur budaya manusia (Regier et al., 1993; Kessler et al., 1994; Weissman et al., 1997). Di Amerika Serikat sendiri , tingkat kejadian gangguan cemas selama 1 tahun pada kelompok usia dewasa awal yaitu 18 – 54 tahun meningkat melebihi angka 16 % dan angka ini mengalami peningkatan signifikan dan komorbiditas dengan gangguan mood dan gangguan penyalahgunaan zat. (Regier et al., 1990; Goldberg &amp;amp; Lecrubier, 1995; Magee et al., 1996). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penelitian longitudinal menyatakan bahwa gangguan ini dipengaruhi oleh umur permulaan ditemukannya gejala .kronisitas, penurunan ataupun kekambuhan episode sakit dan periode ditemukannya gangguan fungsi normal (Keller &amp;amp; Hanks, 1994; Gorman &amp;amp; Coplan, 1996; Liebowitz, 1997; Marcus et al., 1997). Meskipun beberapa pembahasan psikologis pada kasus bunuhdiri pada kalangan dewasa telah menyoroti kondisi komorbiditas (Conwell &amp;amp; Brent, 1995), dan sepertinya tingkatan komorbiditas kecemasan pada kasus bunuh diri seringkali diremehkan . Gangguan Panik dan agoraphobia . khususnya berhubungan dengan meningkatnya resiko usaha percobaan bunuh diri (Hornig &amp;amp; McNally, 1995; American Psychiatric Association, 1998).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Serangan panik dan Gangguan Panik &lt;br /&gt;Serangan Panik adalah periode terpisah dari rasa takut yang sangat atau rasa tidak nyaman yang berhubungan dengan sejumlah symptom somatic dan kognitif ( DSM-IV).Kumpulan gejala ini meliputi palpitasi ,berkeringat, gemetar, nafas tersengal ,rasa seperti tercekik,sakit dada (sesak),mual dan gangguan saluran cerna ,pusing atau kepala berputar-putar , kesemutan,rasa panas yang menjalar di muka.Serangan ini biasanya terjadi tiba-tiba , dengan lama serangan berkisar 10 sampai dengan 15 menit .&lt;br /&gt;Beberapa korban serangan panik mengaku merasakan rasa “takut mati”,seperti gila , atau hilangnya kontrol emosi dan perilaku ( contoh: kaum wanita seringkali menjerit-jerit tanpa kontrol bila merasa panik )&lt;br /&gt;Pengalaman traumatis tersebut akan direkam dalam system memori manusia dan pengalaman tersebut akan membawa seseorang menghindari tempat, suasana dimana dia mendapatkan serangan panik tersebut , atau apabila serangan panik tersebut diikuti oleh gangguan fisik semacam sesak nafas , atau dada sesak maka biasanya si korban akan dengan segera meminta pertolongan medis meskipun sebenarnya secara fisik medis tidak ada yang memicu serangan tersebut sebgaimana yang dirasakan oleh penderita.&lt;br /&gt;Serangan panik secara umum jarang berlangsung lebih dari 30 menit dan secara klinis diagnosa serangan panik tersebut dapat dikenali dengan minimum 4 pertanda somatic dan simpom kognitif sebagaimana dijelaskan diatas .Serangan panik itu dibedakan dari bentukan kecemasan lain dilhat dari intensitas dan jenis serangan (mendadak atau tidak),dan biasanya symptom tersebut terlihat alami.&lt;br /&gt;Lebih lanjut serangan panik bisa digolongkan kepada adanya hubungan antara onset serangandan ada atau tidaknya factor pemicu .Lebih singkatnya , serangan panik bis adigambarkan sebagai suatu serangan yang tidak disangka-sangka ( enexpected), tergantung /terikat pada situasi ,dan sangat dipengaruhi oleh situasi ( hal tersebut adalah gambaran umum, namun dapat deskripsi tersebut dapat berbeda pada kasus-kasus khusus)&lt;br /&gt;Yang perlu diperhatikan adalah bahwa serangan panik bukanlah indicator pasti untuk mengatakan seseorang menderita gangguan mental,dan sekedar catatan bahwa lebih dari 10 persen penduduk sehat pernah mengalami serangan panik (Barlow, 1988; Klerman et al., 1991).Serangan panik juga tidak terbatas pada gangguan panik dimana gangguan panik biasanya didapatkan pada kasus phobia social , gangguan cemas umum, dan gangguan depresif mayor (DSM-IV).&lt;br /&gt;Gangguan panik didiagnosa ketika seseorang mengalami setidaknya dua simptomp serangan panik yang mendadak dan berkembang menjadi rasa takut atau khawatir yang persisten (menetap)akan serangan panik selanjutnya atau ditemukannya perubahan kebiasaannya untuk mengantisipasi terjadinya serangan panik kembali .ketika jumlah dan keparahan kasus serangan sangat bervariasi, rasa kekhawatiran dan perilaku penolakan menjadi hal utama yang perlu diperhatikan . &lt;br /&gt;Diagnosis tidak dapat diterapkan ketika serangan tersebut diperkirakan disebabkan oleh obat atau terapi medis atau gejala yang ditimbulkan oleh karena penyakit lain, hyperthyroidism misalnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penyebab Gangguan Panik&lt;br /&gt;Penelitian epidemiologis menyebutkan rata-rata tingkat kejadian gangguan panik seumur hidup adalah sebesar 2-4 Persen dan rata-rata kejadian selama satu tahun adalah sebesar 2 persen (Kessler et al., 1994; Weissman et al., 1997) (Table 4-1). Gangguan panik seringkali berkomplikasi dengan gangguan depresif mayor (50 - 65 persen tingkat komorbiditas seumur hidup) disusul oleh penyalahgunaan alcohol dan zat terlarang ( 20-30 persen ) (Keller &amp;amp; Hanks, 1994; Magee et al., 1996; Liebowitz, 1997). &lt;br /&gt;Gangguan panik seringkali ditemukan bersamaan dengan gangguan kecemasan lainnya , termasuk phobia social ( sampai 30 %), gangguan cemas umum ( s/d 25 %) , phobia khusus (s/d 20 %) dan gangguan obsesif kompulsif ( s/d 10 %) (DSM-IV). Sebagaimana penjelasan terpisah , kurang lebih satu setengah penderita gangguan panik pada titik tertentu berkembang menjadi penolakan khusus yang berat yang perlu dijelaskan secara terpisah , gangguan panik disertai agoraphobia.&lt;br /&gt;Masalah gender rupanya tidak terlepas dari masalah gangguan panik ini dimana jumlah penderita wanita dijumpai dua kali lipat diabanding pria (American Psychiatric Association, 1998).Umur permulaan terjadinya serangan paling banyak terjadi pada masa adolescence akhir ( biasanya terjadi pada usia 17-21 tahun) ,dan fase dewasa madya (50-65 tahun) dan permulaan serangan jarang terjadi setelah usia lebih dari 50 tahun.Dijumpai pula perkembangan terus menerus antara syndroma kecemasan pada usia muda , seperti gangguan kecemasan akan perpisahan . Biasanya semakin muda waktu serangan gangguan panik ini terjadi, semakin besar pula resiko komorbiditas,kronisitas dan kelemahan yang dibawanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/926888330575414899-3641582235454356396?l=psikologiindonesia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://psikologiindonesia.blogspot.com/feeds/3641582235454356396/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=926888330575414899&amp;postID=3641582235454356396&amp;isPopup=true' title='3 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/926888330575414899/posts/default/3641582235454356396'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/926888330575414899/posts/default/3641582235454356396'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://psikologiindonesia.blogspot.com/2008/05/anxiety-disorder-bagian-i.html' title='Anxiety Disorder (Bagian I )'/><author><name>psikologi-indonesia.blogspot.com</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05745403077313996986</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-926888330575414899.post-1487976718581255942</id><published>2008-04-30T09:30:00.002+07:00</published><updated>2011-04-28T09:50:40.000+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Psikologi Klinis'/><title type='text'>Tinjauan Kasus SEFT vs STEREOTIPE NORMA TUNTUTAN PERAN</title><content type='html'>Salam psikologi klinis dari saya .marbusan.Saudara, beberapa teman yang saya ajari langkah-langkah SEFT mengeluhkan bahwa terapi yang mereka lakukan tidak menunjukkan hasil yang maksimal .Mereka mengeluhkan meskipun sudah dalam keadaan focus , tujuan yang ingin mereka raih dalam terapi tidak juga menunjukkan hasil positif .Akhirnya setelah mendalami kasus –kasus ini dengan seksama ,marbusan bisa menyimpulkan bahwa stereotype norma dalam kehidupanpun juga bisa mempengaruhi hasil psikoterapi .Berikut penjelasan lebih lanjut .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saudara ,saya awali dengan kisah dari seorang dokter gigi senior (tentunya beliau orang yang well educated dan sering bepergian keluar negeri sehingga bisa melakukan perbandingan normative lingkungan dengan apa yang berlaku di Indonesia) yang mengeluh putranya yang berumur 9 tahun tidak bisa berkonsentrasi dengan pelajarannya Easily get distracted , begitu beliau mengatakan .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih lanjut , sang putra selalu tertarik dengan hal-hal diluar pelajarannya dan berusaha mengamati dengan seksama sehingga melupakan pelajarannya tersebut. Contoh ,pada saat belajar matematika dan ia mendengar ada penjual bakso yang lewat depan rumah,maka ia segera menghentikan pelajarannya dan berlari keluar hanya untuk melihat penjual bakso tersebut ,apa warna gerobak baksonya ,dan hal detil lainnya yang sepintas tidak akan diperhatikan oleh orang lain &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada saat sang ibu menghubungi penulis , si ibu menanyakan mengapa metode SEFT yang dilakukannya tidak mebawa hasil optimal untuk si buah hati . Setelah melewati wawancara psikologis secara singkat , penulis dapat menyimpulkan beberapa hal ,antara lain :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. KETERBATASAN PENGERTIAN PROSES TUMBUH KEMBANG ANAK &lt;br /&gt;Saudara ,seandainya sang ibu tahu bahwa pada usia 9 tahun si buah hati memasuki masa operasional konkrit (dari teori perkembangan Piaget) dengan ciri-cirinya yang khas yaitu perkembangan logika dan daya eksplorasi, maka tentunya si ibu akan justru bangga dengan kemampuan pengamatan dan eksplorasi si kecil,tinggal bagaimana si ibu memancing rasa tahu si kecil dan mengarahkannya serta tidak perlu mengkhawatirkannya .&lt;br /&gt;Dengan penjelasan ini , tentunya semua metode psikoterapi ,apapun itu tidak diperlukan lagi karena sudah jelas bahwa sang putra dalam perkembangan yang normal sesuai dengan tahapan usianya .Untuk lebih jelasnya ,penulis akan membeberkan tahapan perkembangan pada usia 7-11 tahun yang menurut Jean Piaget sebut sebagai Masa Perkembangan Operasional Konkrit (Tahapan perkembangan secara lengkap dapat anda baca di www.wikipedia.org Bahasa Indonesia dengan kata kunci Jean Piaget) : &lt;br /&gt;Tahapan ini adalah tahapan ketiga dari empat tahapan. Muncul antara usia enam sampai duabelas tahun dan mempunyai ciri berupa penggunaan logika yang memadai. Proses-proses penting selama tahapan ini adalah:&lt;br /&gt;Pengurutan—kemampuan untuk mengurutan objek menurut ukuran, bentuk, atau ciri lainnya. Contohnya, bila diberi benda berbeda ukuran, mereka dapat mengurutkannya dari benda yang paling besar ke yang paling kecil.&lt;br /&gt;Klasifikasi—kemampuan untuk memberi nama dan mengidentifikasi serangkaian benda menurut tampilannya, ukurannya, atau karakteristik lain, termasuk gagasan bahwa serangkaian benda-benda dapat menyertakan benda lainnya ke dalam rangkaian tersebut. Anak tidak lagi memiliki keterbatasan logika berupa animisme (anggapan bahwa semua benda hidup dan berperasaan)&lt;br /&gt;Decentering—anak mulai mempertimbangkan beberapa aspek dari suatu permasalahan untuk bisa memecahkannya. Sebagai contoh anak tidak akan lagi menganggap cangkir lebar tapi pendek lebih sedikit isinya dibanding cangkir kecil yang tinggi.&lt;br /&gt;Reversibility—anak mulai memahami bahwa jumlah atau benda-benda dapat diubah, kemudian kembali ke keadaan awal. Untuk itu, anak dapat dengan cepat menentukan bahwa 4+4 sama dengan 8, 8-4 akan sama dengan 4, jumlah sebelumnya.&lt;br /&gt;Konservasi—memahami bahwa kuantitas, panjang, atau jumlah benda-benda adalah tidak berhubungan dengan pengaturan atau tampilan dari objek atau benda-benda tersebut. Sebagai contoh, bila anak diberi cangkir yang seukuran dan isinya sama banyak, mereka akan tahu bila air dituangkan ke gelas lain yang ukurannya berbeda, air di gelas itu akan tetap sama banyak dengan isi cangkir lain.&lt;br /&gt;Penghilangan sifat Egosentrisme—kemampuan untuk melihat sesuatu dari sudut pandang orang lain (bahkan saat orang tersebut berpikir dengan cara yang salah). Sebagai contoh, tunjukkan komik yang memperlihatkan Siti menyimpan boneka di dalam kotak, lalu meninggalkan ruangan, kemudian Ujang memindahkan boneka itu ke dalam laci, setelah itu baru Siti kembali ke ruangan. Anak dalam tahap operasi konkrit akan mengatakan bahwa Siti akan tetap menganggap boneka itu ada di dalam kotak walau anak itu tahu bahwa boneka itu sudah dipindahkan ke dalam laci oleh Ujang.&lt;br /&gt;2. TANTANGAN STEREOTIPE TUNTUTAN PERAN dalam LINGKUNGAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saudara , masalah kedua yang di hadapi adalah stereotype peranan dalam lingkungan .Saudara,banyak sekali elemen dalam lingkungan perkembangan anak memberikan tuntutan peran yang harus diemban oleh anak justru kurang memperhatikan tahapan perkembangan baim fisik maupun mental anak. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai contoh , dalam dunia pendidikan dasar sampai menengah yang kita anut selama ini lebih bersifat pendidikan ceramah dan komunikasi satu arah .Sang anak diminta untuk duduk manis dan memperhatikan serta mencatat dan fatalnya,lebih dituntut untuk menghafal materi pelajaran yang diberikan oleh guru .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesempatan anak untuk mengemukakan pendapatnya , kesempatan untuk bereksplorasi atau kesempatan untuk mendapatkan pelajaran di luar ruang kelas (live education) rupanya belum menjadi opsi bagi dunia pendidikan kita .dapat ditebak,bahwa anak-anak kita berkembang kearah penghafal daripada penyaji makalah,dan secara psikologis anak akan mengalami kesulitan dalam mengungkapkan pendapatnya (karena memang jarang diasah dan diberi kesempatan )&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbicara mengenai tinjauan kasus kita kali ini ,kemampuan anak yang mengembangkan daya eksplorasi minat terhadap dunia luar seolah-olah menjadi suatu hal yang aneh dan secara menyedihkan kemudian dianggap sebagi suatu kelainan .Jangankan menjadi “berbeda” (dalam konotasi positif) , menjadi seorang yang sesuai dengan tahapan perkembangannyapun, si anak harus berhadapan dengan stereotipe tuntutan peran ,dan dianggap sebagai suatu kelainan .Pertanyaan yang muncul kemudian adalah ,apa yang mereka “boleh” lakukan ? apakah hanya rambu-rambu “seperti kebanyakan anak yang lain” yang bisa dan boleh anak-anak kita lakukan ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saudara , kelemahan dalam dunia psikologi di Indonesia adalah pemahaman dan aplikasinya yang masih belum popular dan belum dijadikan sebagai referensi menyikapi normal atau tidaknya perilaku dalam masyarakat ,sehingga kesalahpahaman akan cenderung memantik anggapan bahwa seseorang “tidak normal” bila melakukan hal berbeda dengan lingkungan sekitarnya .Kuatnya “social prejudice” rupanya masih tertancap kuat di masyarakat dan ditambah parah dengan budaya membaca dan belajar yang masih lemah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saudara ,banyak dikatakan bahwa untuk menjadi sukses kita harus bisa menerima suatu hal yang “berbeda”, untuk kemudian mempelajarinya .Tentu dengan filter normative masayarakat maupun normative religi.Di akhir tulisan ini, penulis ingin menyampaikan bahwa PSIKOTERAPI,apapun jenisnya hendaknya ditinjau kembali definisi dan tujuan pelaksanaannya.Pesan yang lain adalah hendaknya kita bersikap bijaksana dalam menghadapi sesuatu yang “berbeda” dengan apa yang kita yakini selama ini, karena siapa tahu sesuatu yang berbeda adalah kunci yang membawa pada suatu kebaikan di masa datang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana dengan anda ? setujukan anda dengan saya? Sala psikologi klinis dari saya,marbusan.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/926888330575414899-1487976718581255942?l=psikologiindonesia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://psikologiindonesia.blogspot.com/feeds/1487976718581255942/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=926888330575414899&amp;postID=1487976718581255942&amp;isPopup=true' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/926888330575414899/posts/default/1487976718581255942'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/926888330575414899/posts/default/1487976718581255942'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://psikologiindonesia.blogspot.com/2008/04/tinjauan-kasus-seft-vs-stereotipe-norma.html' title='Tinjauan Kasus SEFT vs STEREOTIPE NORMA TUNTUTAN PERAN'/><author><name>psikologi-indonesia.blogspot.com</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05745403077313996986</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-926888330575414899.post-6081767528350190575</id><published>2008-04-16T17:00:00.002+07:00</published><updated>2011-04-28T09:51:14.063+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Psikologi Industri dan Organisasi'/><title type='text'>Dont Change, Just Be Unique !</title><content type='html'>DON’T CHANGE , BE UNIQUE !&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salam Kelirumologi dari saya, Marbusan ! Kali ini saya tertarik mengupas beberapa kelirumologi yang berasal dari mis-persepsi (maaf, saya mengkelirukan diri .Sebetulnya istilah yang tepat adalah DISTORSI APERSEPSI ) Psikologis Marketing .Kali ini saya memandang dari sudut pandang kelirumologi suatu perubahan dan bagaimana cara menyikapinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saudara-saudara , saya menangkap kesan kelirumologis bahwa apabila dalam sebuah perusahaan mengalami kekalahan dalam hal “ Market Share “ , maka yang terjadi kemudian adalah suatu kepanikan yang mengarah pada suatu “ Change” strategi pemasaran atau (maaf ) kemudian “Imitasi “ strategi pemasaran perusahaan pesaing . Saya cenderung melihat bahwa ada pengertian yang keliru bahwa dengan menguasai “market share “ berarti konsep pemasaran anda disukai konsumen dan akan terus menjadi pemenang . Tidak demikian , saya kira karena bahkan dalam konsep fisikapun terdapat titik jenuh suatu benda , dalam hal ini juga berlaku dalam pemasaran baik jasa maupun produksi.&lt;br /&gt;Saudara, bagaimana kalau saya menawarkan suatu konsep “Unique” ? Dalam hal ini , ada beberapa konsep yang ada dalam nama Unique ini , yaitu :&lt;br /&gt;1. Unlike others .Tidak sama dengan yang lain , bagaimana diferensiasi marketing anda ?&lt;br /&gt;2. Necessity. Berikan “A Little extra” sesuai kondisi yang acak dan sesuai kebutuhan , jangan secara kontinyu atau nilai lebih anda tidak akan mengena . Ingat prinsip Fading dalam konsep Conditional Response .&lt;br /&gt;3. Intimate . Dekatilah konsumen anda secara personal dan jadilah teman setianya, ingat pepatah “a Friend in need is a friend indeed “.&lt;br /&gt;4. Quality . Jangan Pernah melupakan aspek ini.&lt;br /&gt;5. U.Maksudnya adalah “You” atau anda .Anda adalah anda yang juga bersifat unik, jangan pernah membandingkan atau mengimitasi konsep pemasaran perusahaan lain .Ingat , Perusahaan anda dan perusahaan lain tidaklah sama , jadi jangan menggunakan metode yang sama .Be “Unique “!&lt;br /&gt;6. Exceed the Box . jangan mau terkungkung dengan peraturan market yang ada .Ciptakan pandangan-pandangan anda .Konsep E juga bisa berarti “Ethnic”yang berarti pendekatan sesuai kebudayaan masyarakat di tempat anda .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana menurut anda , apakah anda berani berkata “ I don’t change but I want To Be “Unique “ ? “ .Salam Kelirumologi!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/926888330575414899-6081767528350190575?l=psikologiindonesia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='related' href='http://groups.googgle.co.id/grup/psikologi-indonesia-forum' title='Dont Change, Just Be Unique !'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/926888330575414899/posts/default/6081767528350190575'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/926888330575414899/posts/default/6081767528350190575'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://psikologiindonesia.blogspot.com/2008/04/dont-change-just-be-unique.html' title='Dont Change, Just Be Unique !'/><author><name>psikologi-indonesia.blogspot.com</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05745403077313996986</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-926888330575414899.post-2727157954916963901</id><published>2008-04-07T15:46:00.003+07:00</published><updated>2011-04-28T09:52:24.625+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kelirumologi'/><title type='text'>After Image</title><content type='html'>Salam kelirumologi dari saya Marbusan ! Kali ini saya akan mengajak anda untuk belajar tentang Ilusi ,yang dalam hal ini kita akan membahas tentang After Image dan efeknya pada kehidupan sehari-hari . Semoga bermanfaat !&lt;br /&gt;Saudara , mari kita bermain-main sebentar . Bagi anda yang berada dalam suatu ruangan yang ada lampunya , nyalakan dulu lampu tersebut dan pandanglah selama kurang lebih 10 detik, untuk kemudian alihkan pandangan anda ke dinding .Ajaib, anda masih melihat pendar cahaya lampu tersebut di dinding tersebut ! Apakah itu dan bagaimana penjelasannya?&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Saudara , itulah yang disebut sebagi after image . Hal tersebut terjadi karena adanya kelelahan pada retina mata anda sehingga mata masih akan menyimpan gambar sebelumnya dan akan “menumpuk “pada image berikutnya . Saudara , saya hanya akan menyampaikan bahwa ada beberapa hal yang bisa kita ambil dari pengetahuan kita tentang ilusi after image tersebut , yaitu :&lt;br /&gt;1. Jangan mengambil keputusan pada saat anda masih terbayang oleh pekerjaan lama, karena bisa jadi akan hanya akan mengambil keputusan yang salah . Hal ini juga bisa menjelaskan bahwa terkadang dalam dunia bisnis kita tidak bisa mengambil suatu keputusan tentang strategi yang vital segera setelah kita membaca profil competitor kita , jangan –jangan anda hanya akan melakukan duplikasi semata .Ingat , Perusahaan anda adalah sesuatu yang harus “Unique “&lt;br /&gt;2. Take your time sebelum anda mengerjakan pekerjaan selanjutnya . Ingat Kelelahan bisa membawa keputusan yang salah atau tumpang tindih dengan proyek sebelumnya .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saudara , ternyata prinsip perusahaan yang menerapkan Multi Tasking Person dimana seorang pegawai harus bisa mengerjakan banyak hal yang terkadang juga dalam satu waktu yang bersamaan , bisa mengundang terjadinya banyak kesalahan . Akibat yang fatal akan dirasakan bila dilakukan oleh seorang pimpinan yang keputusannya adalah masa depan pegawai atau perusahaan itu sendiri . Jadi , bagaimana menurut anda , apakah anda setuju dengan saya ? salam kelirumologi!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/926888330575414899-2727157954916963901?l=psikologiindonesia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='related' href='http://www.psikologiindonesia.blogspot.com' title='After Image'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/926888330575414899/posts/default/2727157954916963901'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/926888330575414899/posts/default/2727157954916963901'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://psikologiindonesia.blogspot.com/2008/04/after-image.html' title='After Image'/><author><name>psikologi-indonesia.blogspot.com</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05745403077313996986</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-926888330575414899.post-6508399362797852741</id><published>2008-03-25T16:13:00.004+07:00</published><updated>2011-04-28T09:53:00.079+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Psikologi Industri dan Organisasi'/><title type='text'>Bagaimana Menghadapi Office Politics</title><content type='html'>Salam Psikologi Industri ari saya , Marbusan ! Kali ini saya akan mencoba mengajak anda untuk mempelajari dan menyikapi office politics . Saudara , dalam sebuah organisasi apapun dimana banyak orang berkumpul secara intens ( ingat bahwa organisasi di Indonesia masih bersifat paguyuban ) , pastilah akan ada perbedaan need , orientasi , maupun motif dalam bekerja yang di satu sisi sangat terkait dengan kinerja mereka . Mengapa bisa begitu ? mari kita lihat ulasannya .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Saudara , dalam melakukan kegiatannya , adalah sangat lumrah bagi manusia untuk melakukan pendeatan yang intim dengan manusia lainnya , mengingat bahwa kita diciptakan sebagai makhluk social, terlepas dari niatan manusia yang bersangkutan dalam menjalin hubungan tersebut . Dalam dunia kerja ,seringkali kita melihat bahwa orang dalam pandangan kita yang “tidak berkompeten” ( maaf , saya beri tanda petik karena hal ini bersifat subyektif) justru mendapat kesempatan lebih cepat dan lebih mudah dalam mencapai pos tertentu dan tentunya si dia lebih dekat dengan sumber kekuasaan dibandingkan dengan si pendiam namun rajin bekerja . Mengapa bisa demikian ? Tentunya kita berpikir bahwa ada “sesuatu “ yang terjadi .Bahwa sudah terjadi politisasi dalam hubungan kerja adalah hal yang seringkali hinggap dalam pikiran kita . Tidak ada orang yang kebal akan office politics , dan sepengamatan saya tidak ada organisasi yang benar-benar bersih dari kegiatan ini .&lt;br /&gt;I. KOMPETENSI &amp;amp; PROMOSI :&lt;br /&gt;Saudara , factor pertama yang bisa menjadikan office poltics terjadi adalah kekurangan kompetensi dimana seseorang yang merasa kinerjanya kurang , dan kebetulan diberikan kelebihan dalam hal yang lain ( kelebihan verbal misalnya ) akan dapat mencari jalan lain bagi kelancaran karirnya yaitu dengan melakukan pendekatan kepada atasan .Memang , “mencari muka “ adalah hal yang salah , namun menjauh dari atasan juga merupakan hal yang kelirumologi .Saudara , dalam suatu organisasi adalah mustahil bagi seorang pmpinan untuk megetahui kinerja pegawainya secara langsung dengan turun ke bawah . Kebanyakan pimpinan hanya mengetahui dari laporan-laporan yang ada dan satu hal yang seringkali terlupa bahwa pimpinan juga manusia yang butuh hubungan social. Sebatas anda melakukan hubungan baik dengan atasan dengan wajar , tentunya tidak akan ada masalah yang muncul, malah anda akan semakin dikenal . Sutau hal yang bagus , tidak akan tampak bagus bila tidak dipromosikan .Jadi , Promosikan anda sendiri dengan wajar !&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;II. PLAY THE GAME !&lt;br /&gt;Saudara , saya akan mengambil suatu analogi dari olahraga . Biasanya seorang pria sangat suka bermain atau melihat sepakbola . Dari pengalaman saya, meskipun berkali-kali saya mengalami lecet , tertendang , jatuh atau tabrakan dengan pemain lawan saya tidak pernah berpikir untuk berhenti bermain atau membalas mengasari lawan . Saudara , manusia dalam melakukan pekerjaan membutuhkan dorongan “adrenalin” yang bila kita bisa mengalahkannya akan menimbulkan rasa puas yang luar biasa . Di satu sisi , kita bisa belajar bahwa “office politics “ adalah satu hal yang membakar adrenalin kita untuk menunjukkan performance yang lebih baik . Memang , terkadang sangat menyakitkan hati bila kita “dikalahkan” oleh beberapa hal non teknis namun apabila kita tersulut amarah dan membalas lawan kita tersebut , bukan tidak mungkin kita yang akan “dikartu merah “ .Jadi , mainkan secara procedural dan jangan lupa untuk menunjukkan siap diri kita sesungguhnya . Terkadang “show off” sah-sah saja kok , asal jangan menjatuhkan orang lain .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;III. BE THE INTELLIGENCE&lt;br /&gt;Saudara , analogi lain saya ambil dari dunia tentara . Bila Pasukan Marinir, katakanlah demikian , akan melakukan pendaratan di pantai musuh maka mereka akan mengirimkan pasukan khusus untuk menilai dan mempelajari keadaan yang ada . Dalam dunia pekerjaan , pengamatan yang baik adalah sangat perlu untuk menilai kelompok-kelompok kerja yang ada . Jangan menaruh syak wasangka terhadap pengelompokan yang ada karena bagaimanapun manusia cenderung menginginkan berada dekat dengan kelompok yang sama dengan dirinya . Dalam menghadapi Office Politics , anda dalam hal ini mempunyai 3 pilihan , yaitu 1) Tidak memilih kelompok manapun , namun dengan konsekuensi anda akan merasa “terkucil “ 2) Memilih satu kelompok tertentu , namun dengan konsekuensi anda akan dianggap “musuh” oleh kelompok lain dan 3) Bergaul dengan semua kelompok . Dalm hal ini konsekuensinya adalah anda akan selalu dicurigai sebagai “mata-mata” oleh kelompok yang ada . Saudara , setiap pilihan kita dalam hidu selalu dihadapkan pada konsekuensi , jadi pilihlah dengan hati –hati setelah melakukan pengamatan .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saudara, demikian tuliasn saya yang pertama mengenai office politics . Masih ada beberapa tips menghadapi hal ini di kantor anda . Semoga bermanfaat , sampai jumpa pada tulisan berikutnya , dan salam psikologi industri dari saya , marbusan!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/926888330575414899-6508399362797852741?l=psikologiindonesia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='related' href='http://www.psikologiindonesia.blogspot.com' title='Bagaimana Menghadapi Office Politics'/><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://psikologiindonesia.blogspot.com/feeds/6508399362797852741/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=926888330575414899&amp;postID=6508399362797852741&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/926888330575414899/posts/default/6508399362797852741'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/926888330575414899/posts/default/6508399362797852741'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://psikologiindonesia.blogspot.com/2008/03/bagaimana-menghadapi-office-politics.html' title='Bagaimana Menghadapi Office Politics'/><author><name>psikologi-indonesia.blogspot.com</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05745403077313996986</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-926888330575414899.post-1649131856400697029</id><published>2008-03-24T19:00:00.003+07:00</published><updated>2011-04-28T09:53:39.967+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Psikologi Klinis'/><title type='text'>Presentasi dengan Sukses</title><content type='html'>Perasaan "nervous" atau grogi di saat memulai presentasi adalah hal yanghampir pasti dialami oleh semua orang. Bahkan seseorang yang telahberpengalaman berbicara di depan umum pun tidak terlepas dari perasaangrogiatau "demam panggung" ini. Ada pakar yang mengatakan bahwa perasaangrogiini muncul karena melemahnya rasa percaya diri pada seseorang. Namun,seorang yang sangat berkuasa pun, misal presiden direktur yang berbicarapada bawahannya, masih juga terjangkit grogi. Ada juga anjuran agar andamempersiapkan diri sebaik-baiknya sebelum menyajikan presentasi, namuntohperasaan grogi itu tetap muncul. Ini berarti grogi atau nervous bukanlahhalyang bisa dihindari begitu saja. Malahan bila perlu ditangani agarmemberinilai tambah dalam presentasi anda. Baiklah, anda kini sedang menunggugiliran untuk menyampaikan presentasi. Anda telah mempersiapkansegalanya.Namun, anda tetap saja grogi, nervous, gugup dan lain sebagainya.Berikutadalah tips untuk menangani rasa grogi itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;1. Pahami bahwa perasaan grogi adalah energi positifApa yang anda rasakan saat grogi? Dada berdebar-debar, keringat dinginmengucur, bibir bergetar, dan darah seolah mengalir lebih cepat. Pahamibahwa semua itu adalah sebuah dorongan energi yang meluap dari dalamdirianda. Tidak ada yang salah pada energi itu. Ia perlu disalurkan secarapositif. Ia semestinya menjadi bahan bakar yang mendorong presentasiandalebih baik. Anda bisa menggunakan energi itu untuk memantapkanpenampilananda.2. Bersikaplah nothing to looseKeinginan kita untuk bersikap sebaik-baiknya mendorong munculnyaperasaangrogi. Secara negatif, pikiran kita biasanya terbebani oleh ketakutanuntukmembuat kesalahan, kekhawatiran akan gagal, kecemasan bila melakukankekonyolan, dan berbagai bayangan-bayangan negatif lainnya. Sebelum andabisa menggunakan energi grogi itu secara positif, maka terlebih dahuluandaharus menetralisir emosi-emosi negatif tersebut. Bersikaplah "nothing toloose"; tak sesuatu yang patut kita takutkan. Bila toh kita gagal, makatidak sesuatu yang harus menjadikan kita begitu kehilangan.3. Tenangkan diri andaSementara anda menunggu giliran, atur nafas anda. Tarik nafasdalam-dalam,keluarkan lambat-lambat. Keluarkan energi yang meletup-letup dalam dadaandamelalui hembusan nafas yang teratur. Tenangkan pikiran dan emosi anda.Bilaperlu pejamkan mata. Kumpulkan energi itu sebaik-baiknya. Jangan biarkanmengganggu ketenangan jiwa anda.4. Kerahkan energi andaKerahkan energi anda. Lepaskan energi itu dari "kekangannya" . Bila paraaudiens memberi appalus pada pembicara sebelum anda, maka kerahkanenergianda dengan memberikan applaus yang tak kalah meriah. Berdirilah dengansigap. Berjalanlah dengan tegap dan mantap. Bila perlu hembuskan nafaslepassambil berteriak kecil, "yes". Atau turut bertepuk tangan menyambutapplausdari audiens. Lakukan apa-apanya dengan sikap tegas. Biarkan energi itumengalir dalam gerakan anda.5. Berbicaralah dengan keras dan lantangBila anda berbicara lambat, maka bibir anda akan semakin gemetar, suaraandapun bergetar. Salurkan rasa grogi anda melalui suara anda yang keras danlantang. Suara keras anda bukan hanya dapat mengatasi kecemasan, namunjugasarana menyalurkan energi tersebut. Ada baiknya anda menghafal tekspertamaanda namun tetap bersikap wajar.6. DiamAnda dapat menyalurkan ketegangan dalam diri anda pada para audiens,yaitudengan memulai presentasi anda dengan diam beberapa detik. Biarkanketegangan anda terserap dan jadi ketegangan audiens. Bila anda merasaketegangan di audiens sudah cukup meninggi, mulailah presentasi andadengansebuah pembukaan yang kuat, tajam dan lantang.7. Lontarkan humor yang wajar.Lenturkan kegugupan anda dengan sebuah humor yang wajar. Anda memangperlumerencanakannya dengan baik, namun jangan sampai kehilangan spontanitas.Dan, humor terbaik yang tidak akan melukai perasaan siapa pun adalahhumortentang diri anda.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/926888330575414899-1649131856400697029?l=psikologiindonesia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/926888330575414899/posts/default/1649131856400697029'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/926888330575414899/posts/default/1649131856400697029'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://psikologiindonesia.blogspot.com/2008/03/presentasi-dengan-sukses.html' title='Presentasi dengan Sukses'/><author><name>psikologi-indonesia.blogspot.com</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05745403077313996986</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-926888330575414899.post-7140737552424210498</id><published>2008-03-24T18:51:00.003+07:00</published><updated>2011-04-28T09:54:07.230+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Psikologi Klinis'/><title type='text'>Mengenal Pelecehan emosional</title><content type='html'>Salam psikologi klinis dari saya , Marbusan ! Saudara , pernahkah anda mendapatkan “panggilan sayang “ dari keluarga , teman seperti julukan si gembil , anak nakal atau yang lain ? Bagaimana perasaan anda ? Sakit , pasti .Merasa terlecehkan ? Sekarang pertanyaannya , kalau anda merasa sakit diperlakukan demikian mengapa masih banyak orang melakukan hal yang sama kepada orang lain? Apakah anda merasa bahwa rasa sakit yang anda alami harus dialami pula oleh orang lain ? Lalu kapan mata rantai pelecehan emosional ini akan berakhir ?Berikut ini tulisan mengenai pelecehan emosional , semoga bisa membuat kita bercermin dri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Saudara , Dalam aspek kehidupan kita ini , IQ memang masih dianggap sebagai peranti utama penjamin kesuksesan seseorang . Tak heran, bila orang yang kurang berprestasi di dunia akademis mendapatkan tekanan yang luar biasa dari rekan-rekannya . Bahkan selanjutnya pada perjalanan perkembangan dunia kerja yang menuntut efisiensi danprofesionalisme, kini hampir semua orang mulai memahami bahwa IQ sajatidak cukup untuk melakukan sebuah pekerjaan, sebagai penyimbang yangmenyelaraskan maka mulailah di terapkan pendekatan EQ dalam kegiatansetiap hari.Berbagai sumber pustaka, training dan pelatihan tentang EQ makin gencarditerapkan di berbagai perusahaan di hampir seluruh bagian dunia. Hasilyang menganggumkan atas kombinasi penerapan IQ dan EQ makin menyemangatisetiap individu untuk menjadikannya pola hidup modern.Emosi yang stabil dapat memacu kreativitas dan produktivitas, ini adalahinti dari penerapan pendekatan EQ, namun seiring itu pula, perlu banyakorang menyadari bahwa masih saja ada praktek-praktek emotional abusesyang kerap terjadi dan membuat banyak orang menderita secara psikismaupun fisik karenanya.Hal-hal yang dianggap "lumrah" dan "biasa" namun efeknya dapat terusberlangsung seumur hidup.Dunia sekolah, dunia training, dunia kerja, lingkungan social tempattinggal bahkan di tengah keluarga sekalipun, setiap hari terjadipraktek-praktek Emotional Abuse. Sebagian orang mengabaikannya, sebagianlagi menikmati melakukannya dan sebagian lagi menderita karenanya tanpaharus tahu bagaimana mengatasi dan mengobatinya.Seorang manager dapat membuat tekanan emotional yang luar biasa danmenyebabkan karyawannya mengundurkan diri secara terpaksa dan bahkanmelakukan bunuh diri, "mencuri" fasilitas kantor, mensabotase client/laporan kerja orang lain, menjelekkan seseorang di muka umum, seorangayah yang membedakan kelebihan anak yang satu dengan yang lainmenyebabkan tumbuhnya kebencian menahun dalam diri anak dan kemudianmembentuknya menjadi anti-social, seorang guru yang secara emosionaldilecehkan muridnya harus mengalami perawatan psikis bertahun-tahun atastrauma yang dideritanya.Seorang trainer kehilangan kesabarannya dan konsentrasinya atas ulahatau ejekan audience ditengah penyampaian materi dan berakhir dalamsebuah perkelahian. Adalah contoh-contoh sederhana atas emotional abusesyang terjadi. Ejekan "sederhana", praktek per "plonco" an di sekolah danatas karyawan baru, pembentukan kelompok "eksklusif", pembedaanperhatian atau name calling (si gendut, si tukang ngibul, si jorok, sikacamata, si tukang gossip, si resek, si pengecut, dll), pesertatraining anda tidak merespon pada aktivitas training tanpa anda tahupenyebabnya.Semua berawal dari hal yang biasa, namun efeknya dapat sangat mengerikandan bahkan bisa tak tersembuhkan jika tak segera diatasi.Tekanan yang terjadi terus menerus atas kestabilan emosi dapatmempengaruhi kesehatan fisik dan mental anda. Sakit kepalaberkepanjangan, takut tak beralasan pada seseorang, serangan jantung,sakit perut kronik,kehilangan semangat hidup dan motivasi mengembangkandiri dan lain-lain yang pada akhirnya menghambat efektivitas danproduktivitas seseorang.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/926888330575414899-7140737552424210498?l=psikologiindonesia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='related' href='http://www.psikologiindonesia.blogspot.com' title='Mengenal Pelecehan emosional'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/926888330575414899/posts/default/7140737552424210498'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/926888330575414899/posts/default/7140737552424210498'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://psikologiindonesia.blogspot.com/2008/03/mengenal-pelecehan-emosional.html' title='Mengenal Pelecehan emosional'/><author><name>psikologi-indonesia.blogspot.com</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05745403077313996986</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry></feed>
